Kamis, 08 Oktober 2020

Jika Omjay yang Jadi Menteri

#Day2AISEIWritingChallenge



     Malam ini tiba-tiba terlintas di benak saya seorang guru besar bernama Bapak Wijaya Kusumah yang dikenal dengan Omjay. Beliau seorang guru inspirator. Ya, karena beliau bisa menginspirasi banyak orang, terutama guru. Berkat beliau, saat ini banyak guru yang menjadi penulis. Entah sudah berapa judul buku yang ditulis oleh guru-guru Indonesia dengan bimbingan beliau. Hebatnya, itu dilakukan hanya melalui pelatihan menulis di grup whatsapp. Dan juga, dilakukan saat situasi sulit pandemi covid. Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya, melalui wa guru bisa berkarya.

    Ketika belajar dan mengajar  dilakukan di dan dari rumah, profesi guru ditatap miring oleh sekelompok masyarakat. Tanpa ke sekolah guru tetap digaji. Pandangan ini dipatahkan oleh Omjay dengan membuktikan bahwa walaupun di rumah guru tetap berkarya untuk anak bangsa. Media sosial menjadi bukti betapa dalam situasi yang sulit dan serba mendadak, guru tetap berupaya memberikan layanan pendidikan secara nyata. Walau berlangsung di dunia maya. Kreasi dan inovasi guru bermunculan untuk menciptakan pola belajar tanpa tatap muka. Teknologi informasi dan komunkasi menjadi kuncinya.

    Ketika mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi dihapus dari kurikulum pada tahun 2013, Omjay dan kawan-kawan bangkit berjuang menuntut mapel tersebut dikembalikan ke dalam kurikulum nasional. Dalam wadah Komunitas Guru TIK dan KKPI (KOGTIK), diserukan ke seluruh pelosok negeri tentang pentingnya mapel TIK di era digital abad 21. Perjuangan yang berdarah-darah, bergerilya dari kota ke kota menggelar workshop tanpa sedikitpun biaya dari pemerintah. Corong KOGTIK nampaknya terlalu kecil. Ketika bergabung dengan PGRI dan menjadi IG-TIK PGRI, perjuangan dan seruan semakin keras dan nyaring terdengar. Dengan support dari Ibu Ketum PGRI, Ibu Unifah Rosyadi beserta crew, enam tahun lamanya seruan baru di dengar. TIK pun kembali diajarkan dengan nama baru Informatika. Walaupun masih tampak malu-malu, di beberapa sekolah yang stake holdernya menyadari pentingnya mapel ini, TIK sudah mulai diimplementasikan.

Di era pandemi saat ini terbukti batapa pentingnya teknologi informasi dan komunikasi. Enam generasi tak terdidik TIK dengan baik, saat ini dipaksa merangkak untuk melek IT. Begitu juga dengan gurunya. Hadirnya Covid berbuah hikmah. TIK menjadi primadona di tengan wabah yang melanda.

Melalui teknologi ini Omjay terus mengedukasi para guru. Di bawah kendaraan dan bendera PGRI, lajunya kian kencang. Grup Belajar Menulis Bersama Omjay dan PGRI melalui whatsapp, dalam waktu kurang dari satu tahun sudah mencapai grup 16. Pesertanya dari berbagai kalangan, terutama para pendidik dari Sabang sampai Merauke. Jika satu grup ada 250 peserta, maka bisa diketahui berapa banyak guru-guru yang terpapar virus menulisnya Omjay. Biarlah saling kejar antara virus menulis dengan virus corona. Semoga yang sudah terpapar virus menulis, memiliki kekebalan terhadap virus lain yang datang, terutama corona.

    Walaupun bukan ASN, Omjay tahu betul peran guru. Beliau membuktikan guru swasta bisa berkarya untuk bangsa. Beliau tahu kebutuhan anak bangsa di tengah globalisasi dunia. Beliau berani keluar zona nyaman, demi mengawal sebuah keyakinan bahwa TIK dibutuhkan anak negeri dan pasti akan kembali. Kini semua terbukti. Beliau peduli mendongkrak guru agar memiliki kompetensi. Beliau tahu generasi bangsa butuh IT. Beliau tahu kemana arah pendidikan yang pasti. Pemikiran dan pandangannya sudah setingkat menteri. Hanya keberuntungan yang belum saatnya menghampiri. Jika Omjay yang jadi menteri, wajah pendidikan akan berseri. 

3 komentar:

  1. kereen sekali ide, penulisan dan tata bahasanya, menginspirasi untuk penulis pemula, terus berkarya ya pa, semangat ya pa Yoyon

    BalasHapus

Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...