Selasa, 20 Oktober 2020

Baridin dan Ratminah (Bagian 1)

 


Baridin dan Ratminah (Bagian 1)

Mentari sudah bangun dari peraduan. Kicau burung menyambut hari dengan ceria. Tanda aktivitas kehidupan sudah dimulai. Penduduk desa bersemangat keluar rumah. Ada yang pergi kesawah, ladang atau kegiatan lain sesuai profesinya.

Lain halnya dengan Baridin. Pemuda desa yang satu ini pemalas. Ia masih tidur pulas di atas balai bambu. Sudah beberapa kali Mbok Wangsih, ibunya, menyuruhnya bangun. Tapi Baridin malah membalikkan badannya ke dinding bilik. Ia pun  kembali tertidur pulas. Hal ini membuat ibunya yang sudah lama menjanda itu, merasa kesal dan jengkel.

Tiba-tiba dari balik pintu rumah gubuk yang sudah reot itu terdengar suara orang bertamu. Mbok Wangsih mengenali suara itu sebagai Mang Bunawas. Mbok Wangsih dengan sabar kembali membangunkan Baridin. Hari itu Baridin sudah dipesan untuk membajak sawah milik Mang Bunawas. Mengetahui ada yang datang , dan itu Mang Bunawas, Baridin pun bangun.

“Mbok ... Mbok ..., Baridin ada, Mbok?” suara Mang Bunawas memanggil Mbok Wangsih.

Mbok Wangsih keluar disusul Baridin sambil mengucek matanya.

“Kamu niat kerja nggak, sudah siang begini masih tidur,” Mang Bunawas meletakkan ceting berisi nasi dan lauk pauk untuk Baridin yang dikiranya sedang membajak sawahnya.

“Maaf, Mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangunnya kesiangan. Kalau besok saja membajak sawahnya gimana, Mang?” tawar Baridin sambil menguap tanda masih mengantuk.

“Yang benar saja, Din. Semua sawah di kanan, kiri, depan, belakang, sudah dibajak. Tinggal punya saya yang masih bera,” nafas Mang Bun tersengal karena kesal.

“Pokoknya gak mau tahu, hari ini harus selesai. Tuh, bekal makannya sudah ada. Kalau kamu nggak sanggup, saya cari orang lain,” tambah Mang Bun kian kesal.

“Ya sudah ... baiklah, kalau begitu. Mang Bun duluan saja, nanti saya nyusul. Eh, tapi saya kurang jelas letak sawahnya,” tutur Baridin sambil melirik nasi dan lauk pauk di dalam ceting yang dibawa Pak Bunawas. Perutnya sudah tak kuat menahan liur yang membanjiri mulutnya.

“Itu, sawah yang dekat pintu air, sebelah sawahnya Mang Tarkam. Pokoknya yang belum diapa-apakan,” jelas Mang Bun sambil pamit pulang.

Sepulang Pak Bunawas, Baridin langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. Setelah itu ia pamit ke ibunya berangkat kerja membajak sawah Pak Bunawas.

(Bersambung)

#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100kata bercerita

#pendidikbercerita

#warisanAISEI

#Day14AISEIWritingChallenge


2 komentar:

Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...