Rabu, 16 Maret 2022

Surat Cinta Untuk Arumi

Surat Cinta Untuk Arumi

Entah sudah lembar ke berapa kusobek dan kuremas dari halaman buku tulisku. Rasanya lebih mudah bikin PR dari pada menarikan tinta rasa untuk si dia. Sudah kupilih diksi yang pas, tapi saat kubaca sepertinya ada yang kurang. Kuulang dan kuulang lagi, hingga jadilah sepucuk surat untuk Arumi. Segera surat itu kutitipkan pada Hamdan, teman sekelasnya.

Pagi itu tak kulihat Hamdan di sekolah. Hatiku dag dig duh tak karuan. Rasanya ingin kudengar bagaimana sikap Arumi ketika menerima surat dariku. Pasti pipinya merona dan bibir mungilnya menebar senyum. Begitu, bayangku.

Saat ke kantin, aku kaget ketika teman-teman Hamdan mentertawakanku. Aku semakin kaget ketika Hendry culun menghampiriku. "Maafkan aku, Dit. Suratmu untuk Arumi dijadikan contoh surat cinta oleh Bu Sindy dalam pelajaran Bahasa Indonesia."
Mukaku seperti disambar petir menahan malu. Baru saja hendak pergi, tamparan tangan Arumi yang tiba-tiba datang, mendarat telak di pipiku.

Selasa, 15 Maret 2022

Antrian di Akhir Pekan



Akhir pekan itu tak seperti biasanya. Aku terpaksa harus mengantar istriku pergi ke mall untuk berbelanja kebutuhan. Entah kenapa, biasanya istriku pergi sendiri dengan Agya kuning kesayangannya. Tapi sore itu mendadak ia bermanja minta ditemani dan tak kuasa kutolak.

Awalnya aku berniat menunggu saja di mobil sambil memeriksa tugas mahasiswaku di email. Namun kembali istriku merengek agar aku ikut menemaninya belanja. Lagi-lagi aku tak kuasa menolak.

Suasana mall sore itu lumayan ramai. Aytun, istriku, bergegas menarikku ke dalam antrian panjang yang kebanyakan ibu-ibu. Akupun berdiri setelah istriku. Tak lama antrian di belakangku sudah mengular semakin panjang. "Pak Dosen ikut antri minyak goreng juga, ya," sapaan seorang wanita yang ternyata mahasiswaku, mengagetkanku. Sambil tersenyum baru kusadari bahwa sore itu ada kuota minyak goreng bagi setiap pengunjung yang datang.

Senin, 14 Maret 2022

Melepas Rindu di Aster 22


Saat penjengukan pun tiba. Hari sudah siang kala itu. Para santri nampak bersukacita melepas rindu dengan orangtuanya. Kecuali aku yang masih menunggu. Aku berusaha untuk bersabar dan terus berdoa. Dari atas tangga aku menyaksikan lautan santri bertabur bahagia melepas kerinduan dengan orangtuanya. Aku bersyukur melihat kebahagiaan yang tertumpah, walau aku sendiri belum merasakannya.

Sister Nadya, pembimbing kamar, menghampiriku. Ia memelukku yang sudah berlinang air mata. Kerinduanku  masih tertahan dalam penantian di dada yang kian terasa sesak. Nasihat dan kata-kata sister sedikit melegakan dan menguatkan hatiku. Ia  membawaku keluar dari pondok.

Jantungku berdegup kencang ketika tahu bahwa tujuannya adalah rumah sakit. Di ruang Aster 22, kudapati orangtuaku terbaring penuh balutan perban. Aku langsung mencium tangan keduanya. Ada senyum yang tertahan rasa nyeri. "Ayah dan ibu cuma luka ringan. Kamu yang betah ya, Nak," ucap ibu terbata. Sepeda motor yang dikendarai ayah tersenggol mobil hingga jatuh, jelas pengendara mobil usai mengurus biaya pengobatan.

Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...