Rabu, 08 Desember 2021
sahabat malam
Insomnia. Kata ini sudah menjadi temanku mencumbui malam. Entah sejak kapan tepatnya berawal. Mungkin sejak aku kehilangan teman-teman setelah satu per satu menemukan pasangan hidupnya. Atau sejak seringnya mendengar rengekan ibuku yang rindu menimang cucu. Atau panas mendengar gunjingan tetangga yang menganggap ku perjaka tua, bujang lapuk atau jomblo abadi. Ah, persetan dengan semua itu. Yang pasti dalam malam kutemukan damai hati. Apalagi bila Amelia hadir
Lala
Lala. Begitu panggilan anak perempuan berusia empat tahun itu. Wajahnya cantik dengan rambut ikal pendek dan pipi cubby. Kulitnya coklat sawo matang, khas anak nelayan yang akrab dengan pantai. Dia aktif dan periang. Berbeda sekali ketika usianya belum genap setahun. Saat itu ia mengidap sakit jantung bawaan.
Beruntung, Rumah Sakit Harapan Kita telah memenuhi doa dan harapan orang tuanya. Paska tindakan operasi pemasangan balon pada jantungnya, Lala tumbuh normal seperti anak seusianya. Dia sehat, riang, pintar dan lincah. Gerakannya sungguh gesit.
Saat ini ia lagi gandrung bersepeda. Sebuah sepeda mini hadiah ultah, menjadi teman setianya sehari-hari. Merasa sudah mahir, ia minta ayahnya melepas roda penyangga, seperti teman-temannya. Awalnya masih oleng, tapi Lala terus mencoba hingga lancar. Beramai-ramai Lala bersepeda dengan teman-temannya. Full semangat, Lala mengayuh sepeda dengan kencang memimpin di depan. Saat hendak berhenti ia mendadak menarik rem. Namun karena lajunya terlalu kencang, sepeda Lala oleng dan terjun ke selokan. Teman-temannya berhenti dan tawa berirama koor pun meledak. Lala segera bangun lalu meraih sepedanya. Melihat tawa teman-temannya, Lala pun ikut terbahak-bahak. Pakaian basah kuyup dan berlumpur tak dihiraukannya. Beruntung dia tidak apa-apa, malah tertawa gembira. Ini pengalaman pertamanya jatuh dari sepeda.
wajah datar
Pentigraf
Karya Mardiani
Udara London terasa dingin meskipun sudah memasuki musim panas. Kami berempat menunggu bis di halte sekitar Almey Road. Tidak lama bis tingkat merah khas London alias Doble decker merapat di halte. Bis 102 dengan tujuan akhir Golden Green ini akan mengantarkan kami ke Mesjid Raya London.
Pintu bis terbuka, tamapak seorang pria berkulit hitam duduk dibelakang kemudi. Wajahnya datar tidak mmemberikan ekspresi apa-apa. Satu persatu dari kami segera naik ke dalam bis dengan menempelken kartu oyster sebagai alat pembayaran non tunai ke kotak sensor yang ada di dekat dasbor bis. Namun saat oysterku ditempelkan, sensornya tidak merespon. Ternyata saldo pulsa di kartuku tidak mencukupi. Lalu aku mencoba menggunakan kartu cadangan. Masih tidak merespon. Aku jadi bingung dan panik. Sementara disekitar sini tidak ada toko yang menyediakan isi ulang kartu Oyster. Lalu pengemudi bis menyarankan kami untuk menggunakan kartu kredit atau kartu debit. Aku mencoba beberapa kartu yang kami miliki, namun sepertinya tidak ada yang support.
Aku benar-benar bingung, transportasi disini tidak ada yang menggunakan uang tunai. Kami manatap sang pengemudi berharp ia mengijinkan aku naik. Masih dengan wajah datar si penegmudi menatap kami sejenak, “ Okey, take your seat.” katanya. Hatiku girang tiada terperi. Kuucapkan terim kasih tak terhingga padanya. Ia hanya mengangguk masih dengan ekspresi datar.
Bu Linda
Pentigraf
Karya Wiwit Widiyanti
Letak kelas 4 berada di lantai dua. Setelah menaiki tangga, berbelok ke arah kanan. Ruang kelas tersebut terletak di paling sudut kanan. Sebelum memasukinya, masing-masing siswa melewati lorong yang sedikit tertimpa cahaya. Agak gelap memang, karena sinar mentari terhalang oleh rak pajangan piala. Ada rasa yang tidak biasa setiap melewati lorong tersebut. Rasanya ingin mempercepat langkah melewati lorong, supaya segera sampai di dalam kelas.
Bu Linda wali kelas 4, telah duduk dengan wajah tertunduk di meja guru menunggu kehadiran siswa siswinya. Setiap siswa yang datang, langsung menuju tempat duduknya dan mengobrol dengan teman-temannya. Tak lama kemudian, bel berbunyi menandakan waktu mulai belajar telah tiba. KM segera menyiapkan kelas untuk memimpin berdoa dan mengaji. Bu Linda tetap duduk di mejanya dan tak banyak bicara. Dia hanya menatap siswanya sesaat dengan tatapan kosong. Wajahnya yang ayu dan putih, terlihat lebih pucat.
Selesai siswanya mengaji, tanpa berbicara sepatah katapun bu Linda keluar dari kelas. Anak-anak saling berbisik hingga terdengar ketukan halus dari balik pintu. Kepala Sekolah mengabarkan bahwa Bu Linda mengalami pendarahan hebat dan meninggal dunia beserta bayi yang dikandungnya. Seorang siswa bertanya, "Pak, siapa yang duduk di meja guru tadi?" Semua membisu, hanya aroma melati menyeruak ke ruangan kelas.
Senin, 06 Desember 2021
KM 166
Pentigraf
Oleh Yoyon Supriyono
Sudah setengah jam aku di rest area KM 166. Apakah dia hanya mempermainkan perasaan pria yang sudah bertahun-tahun menjomblo ini? Ah, tidak! Walau keakraban kami terjalin hanya dalam maya, dia telah berlabuh jauh dalam samudra hatiku. Bagiku, gadis yang kukenal dalam webinar menulis fiksi itu sudah teramat dekat. Pandainya dia mengukir kata, kisah getir cintaku telah menginspirasi karyanya. Aku terbawa alur kisahnya, hingga ada rasa yang berkecambah dan ingin kusemai di hatinya.
Sudah satu jam aku masih sabar menunggu. Kucoba membunuh ragu yang genit menggoda. Entah aku yang terlalu lugu, atau benih rasa terlalu kuat menguasai nalarku. Masih yakin sebentar lagi akan kulepas setangkai mawar dari busur hatiku. Kubiarkan bibir ini tersenyum membayangkan dia menerima mawar persembahanku. Kubiarkan juga ada bahagia terkemas dalam harap yang terselip di lubuk hati. Tetap kubiarkan, hingga waktu yang jadi penentu.
Jelang sabarku hilang, seorang gadis tetiba sudah berdiri menyapaku. Ternyata dia benar-benar datang. Ada girang diantara degup jantung yang mengencang. Tapi juga ada tanya, siapa lelaki yang bersamanya. Lelaki yang tak pernah ia ceritakan dalam keakraban maya selama ini. Pasti dia adalah adik, kakak, atau famili yang mengantarnya, pikirku menghibur diri. "Mas Paimin, ini Rangga, editor novel pertamaku yang akan segera terbit. Nanti hadir ya saat launching sekaligus pertunangan kami," katanya sambil menaruh undangan warna pink. Kuremas mawar yang sedari tadi kugenggam di bawah meja taman.
perjuangan ke Paris
Pantai sumur Tiris (Paris) menjadi obyek wisata yang lagi viral saat ini. Sering kutemukan viewnya dicumbui pecandu Selfi terpajang pada dinding medsos. Aku yang warganet pemula, jadi penasaran dibuatnya. Bersama teman-teman grup alumni UT kami pada Minggu pagi di akhir November, kami bermotor ria kesana. Walau sedikit mendung di awal pagi, tidak menghalangi kami untuk berangkat.
Perjalanan dari kota ke lokasi lumayan jauh. Aku putuskan untuk mengendarai N-Max, penghuni baru di garasi kami. Motor berpostur bohai ini cocok dengan bodiku. Selain itu, aku belum mencobanya untuk jarak yang agak jauh. Awalnya jalanan begitu mulus. Namun ketika berbelok ke perkampungan, Medan jalannya banyak berlubang. Ditambah lagi hujan yang turun semalam menyisakan genangan air. Aku harus extra hati-hati. Jika tidak, baju dan sepatu baruku yang kelonggaran ini tentu akan bersimbah cipratan air kotor.
Selesai menembus perkampungan, kami dihadapkan pada medan yang lebih ekstrim. Jalan tanggul sempit dan licin dengan bentangan empang di kanan kiri, membuat down nyaliku. Aku berhenti untuk mengumpulkan keberanian yang sempat terserak. Walau sudah tertinggal jauh, bayangan Paris mendongkrak semangatku. Si bohai kembali meluncur perlahan. Rasa tegang berpadu semangat membuat suasana hatiku bak permen nano nano. Rasa itu juga membuat mati rasa. Sampai di lokasi aku disambut tepuk tangan oleh rombongan yang telah tiba duluan. Tidak hanya tepuk tangan, tawa yang tak henti dan tatapan mata ke bawah kakiku membuatku curiga. Aku terkejut mendapati kakiku blepotan tak bersepatu. Parahnya lagi sebelah telapak kakiku sudah tak berkaos kaki. Aku baru sadar semua itu yang membuat mereka tertawa. Entah terbenam dimana sepatu baruku. Juga sebelah kaos kakiku. Tapi semua terbayar oleh keindahan view pantai dan menara Eiffel tiruan yang nampak tertawa sinis memandangku.
Jumat, 03 Desember 2021
Kepulanganku
Kepulanganku kali ini tak seperti biasanya. Cuti yang kuambil cukup lama, hampir satu bulan. Biasanya aku pulang enam bulan sekali. Namun waktu cutinya cuma sepuluh hari. Jika pulang setahun sekali, maka waktu cutinya 20 hari plus ada bonus dua hari. Itu aturan di tempatku bekerja. Sebuah perusahaan asing di luar Jawa. Semua sudah kurencanakan dengan matang. Semua itu agar aku punya waktu leluasa untuk melepas rindu dengan keluarga. Membersamai mereka dalam waktu yang agak lama adalah dambaanku selama ini.
Seperti biasa aku disambut dengan penuh kegembiraan. Terutama putri kecilku yang baru berusia lima tahun. Ia tak mau lepas denganku. Tidurpun minta dikeloni aku, papahnya. Yang sulung kebanyakan mengalah. Ia sudah kelas tiga SD, dan ibunya mendidiknya agar mandiri. Hari-hariku kulalui dengan mengajak keluargaku berbelanja ke mall, berwisata, dan mengunjungi kerabat dekat. Terutama ibu yang sering aku kunjungi, karena beliau sedang sakit. Radang akut sudah lama bersarang di paru-parunya.
Menjelang cutiku habis, istriku bilang bahwa ia sepertinya sedang mengandung. Aku bahagia mendengarnya. Akupun mengajaknya untuk memeriksakan kandungannya ke bidan atau dokter. Awalnya menolak, tapi akhirnya setuju dengan syarat ia berangkat sendiri saja dan aku membersamai anak-anak di rumah. Aku setuju saja walau kurasa ada yang ganjil. Hingga kutemukan secarik kertas catatan kehamilan yang tersimpan dalam tas coklat yang ia sembunyikan dalam lemari. Bagai tersambar petir saat kutahu bahwa istriku sedang hamil empat bulan. Tulang-tulang seperti terlepas dari tubuh saat teringat cerita ibu bahwa ayah sering menginap untuk menengok cucunya. Aku terduduk lunglai dengan remasan kertas di tangan. Istriku datang meratap di pangkuan. Sementara'di luar pintu kamar ayahku berdiri mematung.
Langganan:
Postingan (Atom)
Writer's Block
Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...
-
Bersyukur bisa menyimak pengalaman menulis buku dari seorang ibu guru hebat dan tangguh, Ibu Salamah. Beliau mengajar di SD N 2 Wonosobo, ...
-
Sore tadi saya berada di atas sebuah tower air. Walaupun miris, keinginan itu begitu kuat untuk duduk santai di atas menara ...
-
Resume ke-5 Gelombang : 28 Tanggal : 18 Januari 2023 Tema : Blog Sebagai Media Pembelajaran Narasumber : Dail Ma'ruf, M.Pd Moderator :...