Minggu, 05 Juli 2020

Trik Menulis Di Sosial Media

Trik Menulis di Sosial Media
Oleh Yoyon Supriyono




Barokallah. Minggu sore ini aku langsung disapa Bunda Capri Anjaya yang cantik. Padahal pintu zoom baru saja terbuka. Kutengok jendela, sudah banyak yang hadir. Dengan ramah dan senyum ceria, Bu Capri menyapa satu per satu tamunya. Baru menit awal, aku sudah mendapat ilmu baru. Memasang virtual backgroud dengan gambar yang dishare di Grup AISEI.
 Kali ini Bu Capri didampingi asisten yang imut dan smart. Ibu Dea Sitorus. Suaranya lugas dan jelas. Nah, yang akan tausiah menulis sore ini Pak Agus Sampurno. Dari tayangan profil, belaiau penulis dengan segudang pengalaman dan achievement. Tajuk yang dihelat kali ini tentang Trik Menulis di Berbagai Platform Media Sosial. Sayangnya, volume suara Pak Agus tidak senyaring Bu Capri. Walaupun demikian, aku berusaha untuk bisa menyimak.

Di era digital, kita dihadapkan pada dunia lain. Bukan dunia mimpi atau alam gaib. Orang menyebutnya dunia maya atau dunia internet. Salah satu contohnya kegiatan yang kita laksanakan di rumah zoom ini. Berbagai platform dapat kita gauli sebagai media dengan berbagai tujuan. Berkomunikasi, menyimpan informasi, memperoleh informasi, berbagi informasi dan lainnya.
Ada yang menggelitik dari paparan Pak Agus. Di dunia baru itu, kebanyakan dari kita hanya aktif sebagai pencari informasi. Berselancar dengan search engine petunjuk mbah Google. Berpetualang dari blog ke blog, melintasi tweeter, mengintip You Tube, dengan hasil unduhan atau copas untuk kepentingan pribadi. Kita hanya konsumen.
Aku jadi ingat kalimat bijak, sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Terketuk hati ini. Kita baru bisa menjadi penerima manfaat. Konsumen. Lalu, kapan kita bisa menjadi produsen konten yang bisa memberi manfaat? Caranya, dengan menulis. Seperti kata Omjay, Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa Yang Terjadi.
Pa Agus memulai dengan memberi pretest di www.joinmyquiz.com dan masuk ke www.menti.com. Pertanyaan terkait pemahaman teknik awal menulis di berbagai platform media sosial dan media sosial yang sering digunakan. Beberapa penulis pemula banyak menemui kendala seperti rasa malas, kesulitan untuk memulai, kesulitan menemukan ide, terbatasnya waktu, penguasaan teknik menulis, sulit memenej waktu, writer block, dan kesulitan bagaimana mengorganisasi ide menjadi tulisan yang enak dibaca. Kunci dari semua kendala di atas adalah mulailah menulis. Tulislah apa yang ada di pikiran kita, di sekitar kita. Tulislah hal-hal yang ringan dan mudah. Buat jadwal khusus untuk menulis dan konsisten. Bahkan ketika di perjalanan, sempatkan juga untuk menulis. Hal ini sudah dipaparkan Omjay dan pemateri lain pada sesi sebelumnya.
Di era sekarang, sebagai pendidik, guru dituntut memiliki kemampuan menulis. Jadilah guru penulis. Di medsos, guru harus menjadi contoh produktif pensuplay tulisan. Bukan hanya senang menulis bagi dirinya sendiri, tapi juga mampu menulis untuk orang lain. Artinya tulisan kita dicari, dibutuhkan, dan bisa bermanfaat bagi orang lain.
Agar banyak dibaca orang, tentunya tulisan kita harus menarik. Mengingat kemampuan orang membaca di internet sangat pendek. Tak lebih dari tiga menit. Melalui scanning atau skimming, di tiga menit pertama orang akan memutuskan untuk terus membaca atau tidak. Karena itulah tulisan harus menarik. Tulisan yang menarik berarti juga sama dengan bermanfaat bagi pembaca. Kesan di tiga menit pertama akan menggoda untuk memutuskan selanjutnya, berhenti atau terus membaca.
Agar tulisan menarik, ada beberapa prinsip dalam menulis di laman internet;
Pertama, dalam membuat paragraf usahakan dipersingkat maksimal (3) tiga kalimat.
Kedua, buatlah kalimat maksimal 17 (tujuh belas) kata. Ketiga, penggallah kata-kata menjadi kalimat yang pendek. Keempat, paragraf satu kalimat itu mengagumkan. Kelima, dalam menulis usahakan perbanyak titik dan sedikit koma.

            Tips lain, buatlah pembaca penasaran pada paragraf pertama. Ketika penasaran otomatis pembaca ingin membaca paragraf selanjutnya. Ketika sudah menulis beberapa paragraf, periksa alur, diksi dan tata bahasanya.
Penggunaan kata-kata juga hal yang penting. Gunakan kata yang sering diketahui dan diucapkan oleh banyak orang. Pengetahuan tentang perbendaharaan kata dan padanan kata sangat diperlukan sebagai bahan tulisan.
Dalam menulis di media sosial perlu diperhatikan juga tentang diksi atau pilihan kata. Pilihah kata-kata yang menarik pembaca. Perbendahaan kata harus kaya dan luas. Untuk memperoleh itu salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan rajin dan banyak membaca.
Selanjutnya, menulis harus sesuai dengan target. Sasaran tulisan, kita tujukan kepada siapa. 
Tak kalah penting adalah editing. Ada 4 (empat) bagian penting dalam pengeditan :
1.  Structure
Pada bagian ini cek ide, area atau gambaran besar tulisan kita seperti struktur dan narasi. Intinya, apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan dalam tulisan kita.
2.  Critics
Baca lagi tulisan kita, posisikan dirikita sebagai seorang kritikus paling keras terhadap tulisan kita sendiri.
3.  Cutting
Pada bagian ini usahakan kita jangan menambahkan apapun. Cukup hapus atau delete bagian atau kata yang dianggap tidak perlu.
4.  Style
Setelah selesai 3 (tiga) poin di atas, tambahkan gaya pada tlisan kita agar menjadi indah.
Nah, agar langkah kita lancar dalam menulis, tentu perlu tuntunan. Salah satu caranya adalah bergabung dalam grup menulis seperti AISEI Writing Club. Yang utama adalah mendapat bimbingan dari ahlinya atau orang yang berpengalaman dan sukses dalam menulis, seperti Bapak Agus Sampurno, Omjay, Ibu Capri dan sederetan nara sumber lainnya.

Salam Literasi dan Selamat Berkarya

Minggu, 28 Juni 2020

Si Rambut Pirang (PenTigRaf)


Si Rambut Pirang (Pentigraf)



Tubuhmu masih berkeringat kala itu. Engkau yang baru keluar dari bejana sauna, nampak begitu menggoda. Garis-garis kecil pelapis tubuhmu nampak jelas pada gaun kuning kecoklatan. Menggoda hasrat tuk menerawang jauh ke dalamnya. Membayangkan kelojatmu ketika hentakan-hentakan melahapmu.
Engkau sudah terbaring pasrah bersama yang lainnya. Menanti siapa saja tuan-tuan penikmatmu. Entah berapakah harga yang dibandrol untuk sekedar pelepas lapar dahaga yang kau berikan nantinya? Begitulah tanya yang sempat kau bisikkan pada gelas-gelas kopi teman setiamu. Karena penantianmu takkan selama ufuk pagi hingga terbenam senja.
Bahkan engkau masih sempat membayangkan ketika tuanmu mulai meraihmu. Perlahan pakaianmu kan dilepas dibuang ke tong sampah. Sementara bulu-bulu pirangmu kan tersibakkan. Lalu, hasrat pun takkan rela menunda kesabaran yang menanti di dinding tenggorokan. Hangat tubuhmu perlahan kan beradu dengan irama hentakan gigi-gigi putih. Melumatmu hingga habis bersama kepuasan tuan-tuanmu yang membuncah. Hanya menyisakan seonggok tubuh luluh lantak lunglai terlempar ke pinggiran jalan. Anjing lapar pun takkan melirikmu.
"Jagung rebus ... jagung rebus, masih hangat. Siapa yang mauuu ...," begitu parodi iklan yang dilontar si penjual dalam menjajakanmu.

Senin, 08 Juni 2020

Selfie... ...


Selfie ....
(Pentigraf)
Yoyon Supriyono


Di era Pandemi Covid-19 akhir-akhir ini, Paimin sering kesal dengan kebiasaan baru istrinya. Tiap waktu tak mau lepas dari mainan barunya, hanphone android. Waskem, istrinya, yang lugu dan polos, benar-benar mentaati protokol kesehatan pemerintah. Mulai anteng di rumah, gak pernah ngrumpi, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, semua dijalaninya. Belanja di lazada, grumpi di whatsap, mejeng di instagram dan aktif dengan aplikasi terkini seperti tik-tok, Likee, dan lainnya. Waskem benar-benar sudah tampil sebagai warganet atau netizen. Semua itu salah Paimin juga yang memberi handphone sebagai hadiah ulang tahun istrinya. Maksud baik, ternyata menjadi bumerang. Urusan rumah tangga, hingga layanan terhadap dirinya sering terbengkalai. Bahkan, ketika ia pulang larut malam pun sudah tak dihiraukan.

“Yang, kalau papap suka Selfie, gimana?” suatu sore Paimin menggoda istrinya yang sedang asyik chatting.
“Ya gak papa sih pap, tapi jangan sering-sering, lebay,” jawab Waskem datar.
Jawaban yang sungguh di luar dugaan. Seperti lampu hijau yang baru nyala di perempatan, Paimin langsung tancap gas. Usai makan malam, dengan pakaian dan penampilan perlente, serta aroma One Men Show ia pamit keluar.

Selfie sudah setia menanti di warung dekat gang rumahnya. Sebuah N-Max abu metalik yang dikendarai Paimin siap membawa Selfie mengukir cerita malam. Dengan resep sekali seminggu, mereka mengukir cerita-cerita malam mereka di dinding waktu. Hingga puncaknya, pada suatu malam Minggu, Waskem memergoki mereka di sebuah kafe. Cekcok pun tak terhindarkan.
“Kata Mas Paimin, Mbak membolehkan Mas Paimin suka Selfie,” gadis selingkuhan Paimin itu membela diri.
“Hhhhh ...!!!” setelah menatap suaminya dengan geram, Waskem bergegas meninggalkan cafe dengan perasaan gado-gado. Paimin terdiam bengong. Kejadian itu melengkapi ending cerita-cerita malamnya bersama Selfie.

Selasa, 31 Maret 2020

Gudeg

Indonesia memang negara kaya dengan ragam kuliner. Tiap daerah memiliki kuliner yang khas. Salah satunya adalah gudeg.

Gudeg adalah jenis sayur yang bahan dasarnya adalah nangka muda. Diolah secara khas dengan tambahan telor, krecek dan bumbu rempah. Sayur khas Yogyakarta ini disajikan bersama nasi sebagai makanan pokok. Sebagai tambahan biasanya disediakan juga jenis lauk lainnya. Ada ayam goreng, sambal, lalapan dan kerupuk.

Walaupun terkenal, orang Jawa Barat seperti aku kurang menyukai kuliner ini. Sebabnya sepele. Rasanya yang agak manis mengurangi selera makan. Jadi kalau kalau terpaksa ketemu gudeg, aku pasti minta garam kepada penjualnya. Barulah selera makan terdongkrak lagi.

Rabu, 04 Maret 2020

Lomba Puisi

Pagi itu Denayu sudah bangun. Maklum, hari ini adalah pelaksanaan lomba baca puisi pada even O2SN. Ia nampak bingung memilih kostum untuk dipakai saat dia tampil nanti. Mulai dari memilih baju, kerudung sampai sepatu. Walau baru kelas V SD, namun tinggi badannya sudah hampir menyamai ibunya. Ukuran bajupun sudah mendekati sama. Tak heran bila banyak pakaian ibunya yang ia pakai. Saat inipun tak sulit memilih kostum yang pas dari lemari ibunya.



Aku yang saat itu belum berangkat ke kantor direpotinya juga. Ia minta diantar ke sekolah, tumben hari itu ia tak mau naik sepeda. Mungkin dengan stelan jas ia merasa malu kalau naik sepeda.

Kakakya, Rangga, yang duduk di  kelas X SMA nampak sibuk juga. Ia bolak balik kamar mencari jas hitam untuk tampil drama. Minggu ini memang jadwal pelaksanaan O2SN.

Setelah mohon pamit dan doa restu agar menang, mereka pun meninggalkan rumah. Rangga naik motor Honda win plat merah yang kubawa dari sekolah, sedangkan Ayu aku yang antar. Semoga anak-anakku mendapatkan yang terbaik.

Selasa, 03 Maret 2020

Calon Youtuber



Fathir Muhammad Azzami siswa kelas 1 SD Islam Al hoiriyah, Banyuwangi, kedapatan ayahnya sedang murung dan gelisah sepulang sekolah. Pasalnya ia belum memperoleh "like" yg cukup utk menjadi pemenang terkait tugas dari gurunya meng-upload kegiatan kelompok ke youtube. Saat itu temannya sudah berhasil memperoleh 125 like, bahkan ada yang sampai 177 like. Sementara dia baru dapat 30 like, itupun sudah semua keluarga dan saudara diminta nge-like. Itulah yang membuatnya pusing dan sedih. Darimana dan siapa lagi akan dimintai kesediaannya untuk nge- like video kegiatannya. Konon pemenangnya akan diumumkan di depan kelas dan mendapat hadiah sebuah botol minuman.

Awalnya sang Ayah membujuk untuk mengganti hadiahnya dengan membeli hadiah sejenis di luar. Tapi anak yang satu ini keras pendiriannya. Tetap ia ingin memenangkan tugas upload berhadiah botol minum (Tumbler) itu. Untuk anak laki-laki satu-satunya ini apa yang tidak akan ayahnya berikan. Sang ayahpun berupaya dengan menyuruh murid-muridnya memberi "like" keesokan harinya. Dan angka like pun melonjak tajam. Dari cuma 30 meningkat hingga 280. Dan, Fathir pun meloncat kegirangan ketika timnya dinyatakan sebagai pemeroleh like terbanyak. 
Berada di depan kelas di hadapan teman-temannya menerima hadiah adalah sesuatu banget. Dan itu yang diimpikan Fathir.

Ia berjanji pada kedua orang tuanya akan menabung sebagian dari uang sakunya untuk membeli laptop. Cita-citanya ingin menjadi youtuber, begitu ulasnya ketika ditanyai penulis.

Jumat, 12 April 2019

Cerpen

Pada Suatu Perjalanan Pulang

Oleh Yoyon Supriyono

Pulang kerja adalah saat yang dinanti banyak karyawan atau pegawai. Kondisi lelah saat pulang kerja kadang bisa menimbulkan kantuk. Mengantuk saat pulang kerja kadang susah dihindari. Hal yang lumrah dan alami. Apalagi ketika di tempat kerja banyak yang harus dikerjakan. Tenaga dan pikiran tercurah dan terkuras agar tugas segera tuntas. Tubuhpun menjadi lelah dan enggan beraktifitas. Istirahat adalah langkah yang tepat, walau sering dibarengi kantuk yang berat.

Seperti saat ini, aku dan beberapa orang teman yang bekerja di sebuah sekolah, baru saja menuntaskan persiapan penilaian sekolah. Semua pekerjaan harus selesai dan tuntas hari ini, karena tim penilai akan datang besok. Satu per satu teman-temanku meninggalkan sekolah, kecuali aku yang masih duduk sambil mengecek ulang semua detail persiapan agar tidak ada yang terlewat. Ya, sebagai warga baru di lembaga ini, aku lebih banyak mengalah dalam banyak hal. Pulang pun tak pernah duluan.

Hawa kemarau masih terasa, walau musim hujan sudah tiba. Panas dan gerah. Tak terasa sudah pukul tiga sore. Di lapangan nampak masih ada anak-anak yang sedang melaksanakan kegiatan ekskul.

Ketika yakin semua persiapan sudah maksimal, aku merasa lega. Aku duduk di kursi tamu sambil rebahan. Belaian kipas angin cukup mengundang rasa kantukku. Apalagi semalam aku begadang di depan laptop. Tubuhku terhutang tidur. Tapi aku tak biasa tidur di kantor. Aku harus pulang.

Jalanan panjang berpuluh kilometer menjadi menuku setiap hari. Sebagian melewati kawasan hutan yang ditumbuhi pohon jati dan karet. Waktu tempuh rata-rata 1 sampai 1,5 jam. Tergantung situasi di jalanan. Sebenarnya bisa lewat tol, tapi taripnya lumayan mahal. Kecuali dalam kondisi urgent , itupun terpaksa.

Walaupun jauh, aku suka dengan setiap perjalananku pergi dan pulang kantor. Pemandangan di kanan kiri jalan yang penuh dengan pepohonan membuatku nyaman. Ditambah lagi segelas kopi dan sedikit cemilan selalu setia menemani. Tak ketinggalan alunan syair Ebiet G.A.D atau dangdut pantura mengiringi selama perjalanan.

AC mobilku rusak karena jarang kunyalakan. Aku lebih suka angin liar yang berhembus lewat jendela. Walaupun sejuk, udara di ruang AC itu lebih kotor dibanding yang tidak. Ini sudah dibuktikan secara ilmiah oleh seorang teman guru dari sekolah unggulan. Hasil penelitiannya ini mengusungnya sebagai pemenang inobel dan mendapat penghargaan dari LIPI.

Sore itu angin yang berhembus sepoi kembali mengundang kantukku. Sekejap aku terlelap. Tak tahu kemana arah mobil melaju. Hingga suara klakson itu menyadarkanku. Posisi mobilku sudah melenceng ke arah kanan melewati garis putih batas tengah jalan. Sebuah kendaraan tiba-tiba sudah berada di depanku. Reflekku bekerja. Kubanting setir ke kiri. Dari kaca spion kulihat sebuah truk tergelincir ke trotoar. Astagfirullah. Aku hampir mencelakai orang lain. Untunglah truk itu bisa terkendali dan berada kembali di badan jalan. Untunglah truk itu tidak berbalik mengejarku, tentu akan berabe urusannya. Nampak perlahan truk itu melaju kembali.

Mataku melirik gelas kopi di belakang handel perseneleng. Ah kosong. Tinggal ampasnya. Botol air mineralpun sudah kosong. Sementara kantuk masih bergelayut di mataku. Andai ada warung  untuk istirahat sejenak sekadar menikmati segelas kopi pengusir kantuk, pikirku.

Sementara di atas sana, langit sudah mengukir mendung. Nampak bergulung-gulung, seolah memohon izin untuk segera menebar hujan. Di kanan kiri jalan belum nampak ada warung. Hanya pohon-pohon jati dan pohon-pohon karet yang bergoyang riang mengukuti tarian angin yang melantunkan simponi alam. Di sela kantukku masih kuingat beberapa kilometer ke depan ada beberapa warung. Dengan semangat kulaju terus mobilku.

Bekali-kali mulutku menguap, isyarat agar mata segera dipejam. Dalam nanar pandanganku samar-samar kulihat ada sebuah warung di tepi jalan. Namun seingatku baru kulihat bangunan warung seperti ini. Dan di area ini seingatku pula tidak ada warung. Tapi .... Ah, mungkin warung itu masih baru. Aku sudah tak sabar ingin segera sampai disana, menyeruput kopi hangat, menyantap mie rebus dan rebahan di balai-balai sekadar membunuh kantuk.

Kuparkir mobilku di tepian jalan, tak jauh dari warung. Di dekatnya ada pohon jati besar yang sebagian kayunya sudah kering dan gosong  bekas terbakar. Bangunan warung ini sederhana. Tihang-tihangnya terbuat dari bambu yang divernis. Dindingnya dari gribig (anyaman bambu) yang juga divernis. Sementara atapnya seperti dari welit atau daun tebu kering yang tersusun rapih. Ada tiga bangku panjang agak lebar yang menghadap ke meja papan yang menyatu dengan diding bambu. Sebelah kanan, kiri dan depan. Beberapa pengunjung nampak bersiap meninggalkan warung, melanjutkan perjalanan agar tak terjebak hujan. Tinggal seorang pria paruh baya yang masih asyik menikmati segelas kopi dan makanan ringan di sana.

Dari dalam muncul seorang perempuan muda yang kuyakini sebagai pelayan atau pemilik warung tersebut.
"Bapak mau pesan apa?" suara lirih itu terdengar jelas dari bibirnya yang ranum.
Cantik juga pelayannya, pikirku.
"Kopi hitam Neng ..." sahutku, "ada mie rebus, Neng?" tanyaku melanjutkan.
"Ada Pak, pakai telor?" tanyanya lagi.
" Oh iya, jangan lupa dikasih cabe rawit. Gak usah dipotong ya Neng, cabenya," lanjutku.
"Baik Pak, mangga silakan duduk," ia mempersilakan sambil tersenyum. Manis sekali senyum itu. Senyum yang mengingatkanku pada seseorang ....

Aku duduk tak jauh dari pria paruh baya yang sedang asyik menikmati kopi. Sesekali asap mengepul dari rokok keretek yang dihisapnya. Ia tersenyum aneh ketika aku menatapnya. Kubalas senyuman itu.
"Bade teras kamana, Pak ?" tanyanya dalam bahasa Sunda membuka keheningan. Suaranya terasa berat. Seolah ada beban yang sedang ia tanggung dalam hatinya.
"Mau ke Cirebon, Kang," jawabku.
"Oh, masih jauh ya, Pak," bahasa Indonesianya masih medok logat Sunda.
"Kok berhenti disini, Pak?" tanyanya aneh.
"Emang kenapa Kang, gak boleh gitu ?" sanggahku sambil menguap menghalau rasa kantuk bercampur penasaran.
"Ini kopinya Pak, mie rebusnya sebentar lagi ya, Pak," kata pelayan itu sambil tersenyum dan  menatapku aneh.
Aku masih penasaran dengan pertanyaan pria itu. Tapi ketika aku menoleh ke tempatnya duduk tadi , ia sudah tak ada. Kemana perginya pria tadi?  Pertanyaannya masih membuatku penasaran. Aku segera meraih gelas kopi dan meminumnya. Ah, rasanya kok aneh. Belum selesai aku berpikir tentang rasa kopi, pelayan warung itu menyuguhkan semangkuk mie rebus pesananku. Rasa lapar membuatku tak bisa berpikir jernih. Belum lagi rasa kantuk yang membuatku tidak bisa konsentrasi. Kuaduk mie rebus di mangkuk itu dengan sendok agar kuahnya merata. Setelah rata dan mulai agak dingin, langsung kusantap. Walau ada rasa yang asing tapi kuhabiskan juga mie rebus itu. Mungkin karena lapar jadi soal rasa tidak soal, yang penting perut kenyang.

Ah, tak sedap rasanya kalau habis makan tidak merokok. Tapi, rokokku pun habis.
"Ada rokok, Neng?" tanyaku.
"Tinggal kretek, Pak, ada jisamsu, merah, sampurna, jarum coklat," kata pemilik warung sambil mengambil kaleng biskuit tempat rokok jualannya disimpan.
"Samsu aja Neng, sebatang," pilihku.

Sambil menikmati rokok, kubuka ponsel barangkali ada berita atau pesan penting. Angin kembali berbisik merayapi dedaunan. Suaranya gemerisik bersahutan menyanyikan mars jelang hujan.

Di atas sana langit sudah membentang mendung. Aku putuskan untuk segera pulang. Jangan sampai kehujanan di jalan, AC mobilku lagi gak berfungsi. Tentu akan repot kalau harus ngelap kaca depan yang berkabut. Setelah membayar aku langsung bergegas pulang. Kupacu mobilku menembus hutan yang kian mencekam.

Sejenak teringat ponselku. Aku lupa bilang ke istriku kalau aku pulang telat. Kucari di saku baju dan celanaku, di dasboard, di dalam tas. Tidak ada. Wah pasti tertinggal di warung tadi. Aku langsung putar balik mobilku. Berharap ponsel itu masih di sana.

Namun, sudah sekian jauh belum nampak warung yang tadi aku mampir. Jangan-jangan sudah terlewat. Aku putar balik lagi. Sengaja mobil kupelankan sambil mengingat-ingat posisi warung tadi. Sudut demi sudut pinggiran jalan itu kucermati. Namun tak kulihat ada warung. Yang sempat kuingat hanya pohon jati kering dan gosong. Ya, di dekat pohon jati kering itulah tepat warung itu berdiri. Ya, disitu seharusnya... tapi kemana warungnya, tadi kan disitu.... ?? Aku hanya diam terpaku, terheran-heran. Kemana warungnya? Kemana pelayan cantik dan pria paruh baya yang tadi ada di sana?
Sementara angin semakin berhembus kencang, menerbangkan  daun-daun kering. Suaranya bergemuruh, merobek keheningan hutan sore itu.

Pikiranku berkecamuk. Kacau. Kemana warungnya .... kemana pelayan dan pria paruh baya yang lenyap begitu saja. Gelas kopi, mie rebus itu ... oh, apa yang tadi itu kumakan dan kuminum? Jangan-jangan ... ah kubuang jauh pikiran itu..

Angin kembali berhembus. Tercium aroma wangi bunga dan kemenyan. Baru kuingat ini sore Jum'at. Tiba-tiba, sayup-sayup kudengar suara rintihan minta tolong.  Entah dari mana datangnya. Sepertinya dari balik semak dan pepohonan itu. Kian lama kian jelas. Seolah hendak kisahkan sepenggal cerita yang terkubur disana. Bulu kudukku bergidik.

Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang sedang kucari. Sepertinya dari dalam mobil. Aku bergegas ke mobil dan kubuka pintunya. Ah, ternyata di bawah jok. Mungkin terjatuh tadi. Deringnya terhenti saat kuraih. Kuperiksa siapa yang telepon, tapi ponselku _lowbat_ dan mati. Jangan-jangan istriku yang telefon tadi. Oh, betapa ia sedang mencemaskan diriku.

Angin kembali berhembus. Aroma bunga dan bau kemenyan kian menyengat. Aku merinding.

Gerimis mulai turun. Sudah tak kuhiraukan soal warung dan yang lainnya. Yang ada di benakku segera pergi dan meninggalkan tempat itu. Rasa kantukku hilang sudah. Aku pulang membawa sejuta tanya dan rasa penasaran.

Hingga keesokan harinya kuceritakan yang terjadi kepada teman-teman di kantor. Dan, aku begitu terkejut ketika mengetahui bahwa beberapa waktu yang lalu hutan itu pernah terbakar. Konon apinya merembet kemana-mana dan menurut berita ada beberapa bangunan warung yang ludes terbakar beserta penghuninya.

Oleh Yoyon Supriyono

Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...