Selasa, 27 Oktober 2020
Janda Bolong
Senin, 26 Oktober 2020
ANGIN
Sabtu, 24 Oktober 2020
SIRAMAN GONG SEKATEN
Rabu, 21 Oktober 2020
Baridin dan Ratminah (Bagian 2)
Baridin dan Ratminah (Bagian 2)
Sudah sekian lama berjalan, tiba-tiba Baridin berhenti. Ia bingung di mana letak sawah Pak Bunawas. Ia tengok kanan kiri. Tapi tak ada seorangpun yang lewat untuk ia bisa bertanya.
Tak jauh dari tempat Baridin berdiri, ada seorang gadis desa yang juga nampak sedang bingung. Mulutnya nampak komat kamit seperti sedang mengingat sesuatu.
“Tadi bapa pesen apa aja ya, koq mendadak lupa sih... Emm... kalau gak salah bapak pesen kopi, gula pasir, ikan bandeng, cumi, ...,” suara gadis itu tiba-tiba terhenti seketika.
“Hai, cantik ... kaget, ya! Mau ke mana, sayang ...,” tiga orang pemuda menghampiri sambil menggoda.
“Ih, kebiasaan. Tiap kali aku ke pasar, pasti ada yang iseng gangguin. Kalian gak tahu ya, saya ini anak orang kaya,” kata gadis itu dengan sombong.
“Hei, manis ...dengerin ya. Beli batik di pasar Trusmi, makan siang lauknya sambal, kamu cantik sangat kukasihi, tapi sayang sok jual mahal,” seorang pemuda berpantun menggoda.
“Hei, dengerin juga ya. Ikan petek ikan jambal, dimakan tikus lalu dibuang, orangnya jelek mulutnya gombal, ngomong nyerucus gak punya uang,” balas si gadis.
“Ahai cah ayu ... beli bolu di toko buku, beli kismis sama kuaci, tak usah malu jadi pacarku, punya kumis tipis bikin kamu geli, hahaha ....” pemuda lain ikut menggoda.
“Ih, amit-amit ... bolu kismis dikasih balsem, bawa bantal sama spreinya, kumis tipis baunya asem, rambutnya kumal banyak kutunya, hiii ..., pergi, pergi sana. Saya bilangin bapak tahu rasa lho,” gadis itu mencibir.
“Heh, saya kasih tahu ya, saya ini Ratminah, putrinya Bapak Dam, orang kaya raya. Lelaki yang mau sama saya, orangnya keren-keren, kaya-kaya, berdasi, berkelas, bermobil, beruang,” jelas gadis bernama Ratminah itu dengan ketus dan sombong sambil berlalu pergi.
“Ooh, jadi yang mau sama kamu itu beruang ... Hiii... cantik-cantik kok mau sama beruang, hahaha ....” ketiga pemuda itu megolok-olok sambil tertawa.
“Mang ... Mang, mau nanya, kalau sawah Pak Bunawas sebelah mana, ya?” Baridin tiba-tiba datang dan bertanya kepada ketiga pemuda itu. Tak sengaja pandangannya menangkap wajah si gadis. Hatinya bergetar.
“Aah, ganggu saja, sawah Pak Bun kesana,” jawab pemuda berkumis.
“Kesana, kemana, Mang?” Baridin nampak kurang jelas.
“Ya kesana saja, lurus, lurus saja,” jawab pemuda yang lain.
Baridin pun pergi. Pemuda berandalan kembali mau menggoda si gadis. Namun gadis bernama Ratminah itu sudah pergi. Mereka pun menggerutu. Gara-gara Baridin, mereka kehilangan gadis yang sedang digodanya itu. (Bersambung)
#AISEIWritingChallenge
#30hariAISEIbercerita
#100kata bercerita
#pendidikbercerita
#warisanAISEI
#Day15AISEIWritingChallenge
Selasa, 20 Oktober 2020
Baridin dan Ratminah (Bagian 1)
Baridin dan Ratminah (Bagian 1)
Mentari sudah bangun dari peraduan. Kicau burung menyambut hari dengan ceria. Tanda aktivitas kehidupan sudah dimulai. Penduduk desa bersemangat keluar rumah. Ada yang pergi kesawah, ladang atau kegiatan lain sesuai profesinya.
Lain halnya dengan Baridin. Pemuda desa yang satu ini pemalas. Ia masih tidur pulas di atas balai bambu. Sudah beberapa kali Mbok Wangsih, ibunya, menyuruhnya bangun. Tapi Baridin malah membalikkan badannya ke dinding bilik. Ia pun kembali tertidur pulas. Hal ini membuat ibunya yang sudah lama menjanda itu, merasa kesal dan jengkel.
Tiba-tiba dari balik pintu rumah gubuk yang sudah reot itu terdengar suara orang bertamu. Mbok Wangsih mengenali suara itu sebagai Mang Bunawas. Mbok Wangsih dengan sabar kembali membangunkan Baridin. Hari itu Baridin sudah dipesan untuk membajak sawah milik Mang Bunawas. Mengetahui ada yang datang , dan itu Mang Bunawas, Baridin pun bangun.
“Mbok ... Mbok ..., Baridin ada, Mbok?” suara Mang Bunawas memanggil Mbok Wangsih.
Mbok Wangsih keluar disusul Baridin sambil mengucek matanya.
“Kamu niat kerja nggak, sudah siang begini masih tidur,” Mang Bunawas meletakkan ceting berisi nasi dan lauk pauk untuk Baridin yang dikiranya sedang membajak sawahnya.
“Maaf, Mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangunnya kesiangan. Kalau besok saja membajak sawahnya gimana, Mang?” tawar Baridin sambil menguap tanda masih mengantuk.
“Yang benar saja, Din. Semua sawah di kanan, kiri, depan, belakang, sudah dibajak. Tinggal punya saya yang masih bera,” nafas Mang Bun tersengal karena kesal.
“Pokoknya gak mau tahu, hari ini harus selesai. Tuh, bekal makannya sudah ada. Kalau kamu nggak sanggup, saya cari orang lain,” tambah Mang Bun kian kesal.
“Ya sudah ... baiklah, kalau begitu. Mang Bun duluan saja, nanti saya nyusul. Eh, tapi saya kurang jelas letak sawahnya,” tutur Baridin sambil melirik nasi dan lauk pauk di dalam ceting yang dibawa Pak Bunawas. Perutnya sudah tak kuat menahan liur yang membanjiri mulutnya.
“Itu, sawah yang dekat pintu air, sebelah sawahnya Mang Tarkam. Pokoknya yang belum diapa-apakan,” jelas Mang Bun sambil pamit pulang.
Sepulang Pak Bunawas, Baridin langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. Setelah itu ia pamit ke ibunya berangkat kerja membajak sawah Pak Bunawas.
(Bersambung)
#AISEIWritingChallenge
#30hariAISEIbercerita
#100kata bercerita
#pendidikbercerita
#warisanAISEI
#Day14AISEIWritingChallenge
Senin, 19 Oktober 2020
Legenda Cinta dari kota Udang
Siang ini saya berkendara ke kota Cirebon. Siapa yang tidak tahu kota Cirebon? Kota dengan seribu daya tarik. Kota yang memiliki magnit bagi para wisatawan, peziarah dan petualang. Beragam adat, tradisi, seni dan budaya melekat erat di dalamnya.
Di antara ragam pesona di kota Udang ini, ada satu kisah cinta yang melegenda. Tak kalah hebat dan serunya dengan Romeo dan Juliet. Atau Rama dan Sinta. Cirebon punya legenda , Baridin dan Suratminah. Drama kisah cinta ini kembali kuputar menemani perjalananku ke Cirebon, kota Udang. Kisah yang dikemas dalam drama tarling Cirebonan. Legenda rakyat Cirebon ini diangkat dalam cerita drama oleh H. Abdul Adjid {alm}. Bersama grup Tarling Putra Sangkala, kisah ini menjadi terkenal kemana-mana.
Ingin tahu ceritanya? Sabar ya, follow terus
blog saya dan jangan lupa tinggalkan komen. Akan hadir cerita bersambung Baridin
dan Suratminah.
#AISEIWritingChallenge
#30hariAISEIbercerita
#100kata bercerita
#pendidikbercerita
#warisanAISEI
#Day13AISEIWritingChallenge
Minggu, 18 Oktober 2020
Tradisi Ngunjung
Tradisi ngunjung
Saya
dilahirkan dan dibesarkan di bumi kota Wali (Cirebon). Kota di mana
salah satu wali dimakamkan, kaya dengan tradisi hasil akulturasi agama dan
budaya setempat. Salah satunya adalah tradisi Ngunjung. Ngunjung berasal dari
kata kunjung, yang artinya mendatangi atau mengunjungi. Bentuk ritual tradisi
ini, masyarakat atau warga kampung berkunjung atau berziarah ke makam leluhur yang dianggap keramat,
sebagai salah satu wujud penghormatan dan rasa syukur. Doa bersama dalam bentuk
tahlilan dipimpin oleh sesepuh atau tokoh agama. Selain berdo’a, pada acara
Ngunjung ini biasanya ditampilkan berbagai macam kesenian khas daerah seperti
wayang, topeng dan lainnya.
Hingga saat ini tradisi ini masih melekat dan
dirayakan hampir di setiap desa di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan
sekitarnya. Termasuk di desa tempat saya tinggal sekarang. Masyarakat
berbondong-bondong datang ke lokasi makam membawa makanan dan jajanan untuk
dinikmati bersama usai tahlilan. Selain sebagai bentuk penghormatan
kepada leluhur, ritual ini juga sebagai ajang permohonan doa kepada Tuhan agar warga
desa diberikan keselamatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah, gemah ripah
loh jinawi. Semangat kebersamaan, gotong royong, saling memberi dan berbagi
sangat kental terasa.
Bila ditengok ke belakang, tradisi ini tak lepas
dari sejarah perkembangan agama Islam di pulau Jawa. Islam yang hadir dengan
ramah, penuh solidaritas dan cinta damai, disambut oleh masyarakat dengan
kultur sosio-budaya lokal setempat. Pertemuan keduanya melahirkan harmonisasi
peradaban dalam bentuk tradisi. Perpaduan agama dan budaya yang mesra ini
menjadi model kehidupan beragama yang ideal. Agama Islam hadir dengan nafas
ketauhidan memberikan ruh pada budaya setempat. Sedangkan budaya lokal menyerap
ajaran agama dengan tangan terbuka. Dari kondisi ini tercipta nuansa budaya lokal
yang agamis, seperti dua keping mata uang yang berbeda tapi saling mengisi dan
melengkapi.
Itulah sekilas tradisi di tempat saya. Bagaimana
tradisi di tempat anda?
#AISEIWritingChallenge
#30hariAISEIbercerita
#100kata bercerita
#pendidikbercerita
#warisanAISEI
#Day10AISEIWritingChallenge
Writer's Block
Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...
-
Bersyukur bisa menyimak pengalaman menulis buku dari seorang ibu guru hebat dan tangguh, Ibu Salamah. Beliau mengajar di SD N 2 Wonosobo, ...
-
Sore tadi saya berada di atas sebuah tower air. Walaupun miris, keinginan itu begitu kuat untuk duduk santai di atas menara ...
-
Resume ke-5 Gelombang : 28 Tanggal : 18 Januari 2023 Tema : Blog Sebagai Media Pembelajaran Narasumber : Dail Ma'ruf, M.Pd Moderator :...


