Selasa, 27 Oktober 2020

Janda Bolong

     Melihat tanaman ini, ada tanya yang menggelitik di hati. Siapa yang menjuluki tanaman ini dengan nama janda bolong? Apa hubungan tanaman ini dengan janda, ya? 
     Kalau melihat daunnya, sepintas seperti daun yang dimakan ulat. Bolong-bolong. Tapi kalau pasangan katanya jatuh ke tangan janda, hal ini yang bikin penasaran. Janda bolong, maknanya apa? Sebuah analogi yang menggelitik. 
     Tumbuhan dengan nama latin monstera obliqua ini memang sedang trendi. Di pasar maya harganya berkisar antara 7.5 K hingga 35 K. Bahkan untuk yang berdaun Dwi warna bisa lebih mahal. 
     Ternyata, walaupun menyandang nama janda, apalagi bolong, jenis bunga ini bernilai jual lumayan. Bisa dibudidayakan sebagai tambahan penghasilan di musim pandemi. Keunikannya terletak pada daunnya yang bolong alami. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri.
    Jadi, jangan memandang sebelah mata dengan janda. Walaupun janda, tetap punya daya tarik dan tentunya masih bernilai.

Senin, 26 Oktober 2020

ANGIN


       Hari ini aku ingin menulis tentang angin. Angin dari kipas yang telah membuatku terbaring. Kepalaku terasa berat, sakit dan pusing. Sekujur tubuhku terasa nyeri. Istriku bilang aku masuk angin. Ia menyuruhku berbaring telungkup. Tubuhku dikerok pakai koin blendong warisan nenek. Setelah itu ia memberiku obat yang ternyata jamu tolak angin. Anginnya sudah masuk koq baru ditolak, ya. Hehe
       Sebenarnya angin tuh apa sih? Menurut wikipedia, angin adalah aliran udara dalam jumlah yang besar diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah.Tekanan udara disemua tempat tidak sama. Perbedaan tekanan udara tersebut menyebabkan udara mengalir atau bergerak, yang disebut angin.
       Dalam dunia sastra angin mendapat tempat spesial sebagai bentuk ungkapan suasana. Rindu sering dititipkan kepada angin. Angin menjadi tempat bertanya, atau menjadi deskripsi suasana ketika alirannya sepoi-sepoi. Bahkan yang tidak komitmen suka disebut angin-anginan. 
       Namun angin juga kadang menjadi sesuatu yang buruk dan jahat. Misalnya yang baru saja aku alami, masuk angin. Atau, angin topan dan angin puting beliung yang bisa memporak-porandakan kehidupan. Apalagi angin tornado, sangat mengerikan dan ditakuti. 
       Kemarin aku melayat istri sahabatku yang meninggal mendadak. Ternyata kematiannya disebabkan oleh angin. Menurut diagnosa dokter, istri sahabatku itu meninggal karena angin duduk. Lagi-lagi angin. Walaupun hanya istilah nama penyakit, angin yang satu ini tidak boleh disepelekan. 
       Angin duduk terjadi ketika jantung kekurangan suplai oksigen dari darah. Hal ini menyebabkan sesak dan kesulitan bernapas. Dada terasa sakit dan sesak seperti terhimpit benda besar. Bila ini terjadi, segera hubungi dokter.
       Nah, angin jangan dianggap enteng. Bila sudah mendesak tak usah ditahan. Biarkan ia keluar secara alami walau dengan aroma yang kadang kurang bersahabat. Ini demi kesehatan tentunya. 
 

Sabtu, 24 Oktober 2020

SIRAMAN GONG SEKATEN

Pagi Minggu ini berkesempatan hadir di Kraton Kanoman Cirebon atas ajakan seorang kerabat keraton. Menjelang peringatan Maulid Nabi, ada ritual siraman gong. Tepatnya pada tanggal 7 Rabiul awal. Acara sakral ini dilakukan oleh segenap abdi dalem dan bangsawan Keraton. 
Perangkat gamelan yang dikenal dengan Gong Sekaten, dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di ruang jinem. Seijin sultan, perangkat gamelan peninggalan Sunan Gunung Jati itu dibawa ke langgar untuk dicuci.
Sebelum siraman gong, didahului dengan doa bersama di langgar yang dipimpin oleh penghulu keraton. Setelah itu perangkat gamelan dicuci dengan air yang dicampur kembang tujuh rupa.Usai dicuci perangkat gamelan gong Sekaten dibawa ke Siti Hinggil untuk disemayamkan. Selanjutnya gong tersebut akan ditabuh pada malam harinya setelah sholat isya. Acara ini dikenal dengan Pelal Alit. 


Masyarakat yang hadir berebut air bekas cucian gong tersebut. Dengan wadah jerigen atau botol air mineral mereka membawa pulang air bercampur bunga tujuh rupa itu untuk berbagai keperluan. Dari seorang pengunjung diperoleh keterangan bahwa air itu dipercaya memiliki berbagai khasiat. Ada yang langsung untuk cuci muka agar awet muda, disiramkan ke sawah agar bebas dari hama dan berbagai keperluan lain. Wallahu alam.

Rabu, 21 Oktober 2020

Baridin dan Ratminah (Bagian 2)

 


Baridin dan Ratminah (Bagian 2)

Sudah sekian lama berjalan, tiba-tiba Baridin berhenti. Ia bingung di mana letak sawah Pak Bunawas. Ia tengok kanan kiri. Tapi tak ada seorangpun yang lewat untuk ia bisa bertanya.

Tak jauh dari tempat Baridin berdiri, ada seorang gadis desa yang juga nampak sedang bingung. Mulutnya nampak komat kamit seperti sedang mengingat sesuatu.

“Tadi bapa pesen apa aja ya, koq mendadak lupa sih... Emm... kalau gak salah bapak pesen kopi, gula pasir, ikan bandeng, cumi, ...,” suara gadis itu tiba-tiba terhenti seketika.

“Hai, cantik ... kaget, ya! Mau ke mana, sayang ...,” tiga orang pemuda menghampiri sambil menggoda.

“Ih, kebiasaan. Tiap kali aku ke pasar, pasti ada yang iseng gangguin. Kalian gak tahu ya, saya ini anak orang kaya,” kata gadis itu dengan sombong.

“Hei, manis ...dengerin ya. Beli batik di pasar Trusmi, makan siang lauknya sambal, kamu cantik sangat kukasihi, tapi sayang sok jual mahal,” seorang pemuda berpantun menggoda.

“Hei, dengerin juga ya. Ikan petek ikan jambal, dimakan tikus lalu dibuang, orangnya jelek mulutnya gombal, ngomong nyerucus gak punya uang,” balas si gadis.

“Ahai cah ayu ... beli bolu di toko buku, beli kismis sama kuaci, tak usah malu jadi pacarku, punya kumis tipis bikin kamu geli, hahaha ....” pemuda lain ikut menggoda.

“Ih, amit-amit ... bolu kismis dikasih balsem, bawa bantal sama spreinya, kumis tipis baunya asem, rambutnya kumal banyak kutunya, hiii ..., pergi, pergi sana. Saya bilangin bapak tahu rasa lho,” gadis itu mencibir.

“Heh, saya kasih tahu ya, saya ini Ratminah, putrinya Bapak Dam, orang kaya raya. Lelaki yang mau sama saya, orangnya keren-keren, kaya-kaya, berdasi, berkelas, bermobil, beruang,” jelas gadis bernama Ratminah itu dengan ketus dan sombong sambil berlalu pergi.

“Ooh, jadi yang mau sama kamu itu beruang ... Hiii... cantik-cantik kok mau sama beruang, hahaha ....” ketiga pemuda itu megolok-olok sambil tertawa.

“Mang ... Mang, mau nanya, kalau sawah Pak Bunawas sebelah mana, ya?” Baridin tiba-tiba datang dan bertanya kepada ketiga pemuda itu. Tak sengaja pandangannya menangkap wajah si gadis. Hatinya bergetar.

“Aah, ganggu saja, sawah Pak Bun kesana,” jawab pemuda berkumis.

“Kesana, kemana, Mang?” Baridin nampak kurang jelas.

“Ya kesana saja, lurus, lurus saja,” jawab pemuda yang lain.

Baridin pun pergi. Pemuda berandalan kembali mau menggoda si gadis. Namun gadis bernama Ratminah itu sudah pergi. Mereka pun menggerutu. Gara-gara Baridin, mereka kehilangan gadis yang sedang digodanya itu. (Bersambung)


#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100kata bercerita

#pendidikbercerita

#warisanAISEI

#Day15AISEIWritingChallenge


Selasa, 20 Oktober 2020

Baridin dan Ratminah (Bagian 1)

 


Baridin dan Ratminah (Bagian 1)

Mentari sudah bangun dari peraduan. Kicau burung menyambut hari dengan ceria. Tanda aktivitas kehidupan sudah dimulai. Penduduk desa bersemangat keluar rumah. Ada yang pergi kesawah, ladang atau kegiatan lain sesuai profesinya.

Lain halnya dengan Baridin. Pemuda desa yang satu ini pemalas. Ia masih tidur pulas di atas balai bambu. Sudah beberapa kali Mbok Wangsih, ibunya, menyuruhnya bangun. Tapi Baridin malah membalikkan badannya ke dinding bilik. Ia pun  kembali tertidur pulas. Hal ini membuat ibunya yang sudah lama menjanda itu, merasa kesal dan jengkel.

Tiba-tiba dari balik pintu rumah gubuk yang sudah reot itu terdengar suara orang bertamu. Mbok Wangsih mengenali suara itu sebagai Mang Bunawas. Mbok Wangsih dengan sabar kembali membangunkan Baridin. Hari itu Baridin sudah dipesan untuk membajak sawah milik Mang Bunawas. Mengetahui ada yang datang , dan itu Mang Bunawas, Baridin pun bangun.

“Mbok ... Mbok ..., Baridin ada, Mbok?” suara Mang Bunawas memanggil Mbok Wangsih.

Mbok Wangsih keluar disusul Baridin sambil mengucek matanya.

“Kamu niat kerja nggak, sudah siang begini masih tidur,” Mang Bunawas meletakkan ceting berisi nasi dan lauk pauk untuk Baridin yang dikiranya sedang membajak sawahnya.

“Maaf, Mang Bun, tadi malam saya nonton wayang, jadi bangunnya kesiangan. Kalau besok saja membajak sawahnya gimana, Mang?” tawar Baridin sambil menguap tanda masih mengantuk.

“Yang benar saja, Din. Semua sawah di kanan, kiri, depan, belakang, sudah dibajak. Tinggal punya saya yang masih bera,” nafas Mang Bun tersengal karena kesal.

“Pokoknya gak mau tahu, hari ini harus selesai. Tuh, bekal makannya sudah ada. Kalau kamu nggak sanggup, saya cari orang lain,” tambah Mang Bun kian kesal.

“Ya sudah ... baiklah, kalau begitu. Mang Bun duluan saja, nanti saya nyusul. Eh, tapi saya kurang jelas letak sawahnya,” tutur Baridin sambil melirik nasi dan lauk pauk di dalam ceting yang dibawa Pak Bunawas. Perutnya sudah tak kuat menahan liur yang membanjiri mulutnya.

“Itu, sawah yang dekat pintu air, sebelah sawahnya Mang Tarkam. Pokoknya yang belum diapa-apakan,” jelas Mang Bun sambil pamit pulang.

Sepulang Pak Bunawas, Baridin langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. Setelah itu ia pamit ke ibunya berangkat kerja membajak sawah Pak Bunawas.

(Bersambung)

#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100kata bercerita

#pendidikbercerita

#warisanAISEI

#Day14AISEIWritingChallenge


Senin, 19 Oktober 2020

Legenda Cinta dari kota Udang

 


            Siang ini saya berkendara ke kota Cirebon. Siapa yang tidak tahu kota Cirebon? Kota dengan seribu daya tarik. Kota yang memiliki magnit bagi para wisatawan, peziarah dan petualang. Beragam adat, tradisi, seni dan budaya melekat erat di dalamnya.

 Di antara ragam pesona di kota Udang ini, ada satu kisah cinta yang melegenda. Tak kalah hebat dan serunya dengan Romeo dan Juliet. Atau Rama dan Sinta. Cirebon punya legenda , Baridin dan Suratminah. Drama kisah cinta ini kembali kuputar menemani perjalananku ke Cirebon, kota Udang. Kisah yang dikemas dalam drama tarling Cirebonan. Legenda rakyat Cirebon ini diangkat dalam cerita drama oleh H. Abdul Adjid {alm}. Bersama grup Tarling Putra Sangkala, kisah ini menjadi terkenal kemana-mana.

 Ingin tahu ceritanya? Sabar ya, follow terus blog saya dan jangan lupa tinggalkan komen. Akan hadir cerita bersambung Baridin dan Suratminah.

#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100kata bercerita

#pendidikbercerita

#warisanAISEI

#Day13AISEIWritingChallenge


Minggu, 18 Oktober 2020

Tradisi Ngunjung

 

Tradisi ngunjung

Saya  dilahirkan dan dibesarkan di bumi kota Wali (Cirebon). Kota di mana salah satu wali dimakamkan, kaya dengan tradisi hasil akulturasi agama dan budaya setempat. Salah satunya adalah tradisi Ngunjung. Ngunjung berasal dari kata kunjung, yang artinya mendatangi atau mengunjungi. Bentuk ritual tradisi ini, masyarakat atau warga kampung berkunjung atau berziarah ke makam leluhur yang dianggap keramat, sebagai salah satu wujud penghormatan dan rasa syukur. Doa bersama dalam bentuk tahlilan dipimpin oleh sesepuh atau tokoh agama. Selain berdo’a, pada acara Ngunjung ini biasanya ditampilkan berbagai macam kesenian khas daerah seperti wayang, topeng dan lainnya.

Hingga saat ini tradisi ini masih melekat dan dirayakan hampir di setiap desa di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan sekitarnya. Termasuk di desa tempat saya tinggal sekarang. Masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi makam membawa makanan dan jajanan untuk dinikmati bersama usai tahlilan. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, ritual ini juga sebagai ajang permohonan doa kepada Tuhan agar warga desa diberikan keselamatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah, gemah ripah loh jinawi. Semangat kebersamaan, gotong royong, saling memberi dan berbagi sangat kental terasa.

Bila ditengok ke belakang, tradisi ini tak lepas dari sejarah perkembangan agama Islam di pulau Jawa. Islam yang hadir dengan ramah, penuh solidaritas dan cinta damai, disambut oleh masyarakat dengan kultur sosio-budaya lokal setempat. Pertemuan keduanya melahirkan harmonisasi peradaban dalam bentuk tradisi. Perpaduan agama dan budaya yang mesra ini menjadi model kehidupan beragama yang ideal. Agama Islam hadir dengan nafas ketauhidan memberikan ruh pada budaya setempat. Sedangkan budaya lokal menyerap ajaran agama dengan tangan terbuka. Dari kondisi ini tercipta nuansa budaya lokal yang agamis, seperti dua keping mata uang yang berbeda tapi saling mengisi dan melengkapi.

Itulah sekilas tradisi di tempat saya. Bagaimana tradisi di tempat anda?

 

#AISEIWritingChallenge

#30hariAISEIbercerita

#100kata bercerita

#pendidikbercerita

#warisanAISEI

#Day10AISEIWritingChallenge


Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...