Selasa, 22 September 2020

Hoax, Bagaimana Menangkalnya?

 


Di era teknologi informasi yang semakin canggih, kita tidak asing dengan istilah hoax. Pengguna media sosial sering menemui informasi atau berita yang berseliweran baik di WAG, Twitter, Instagram, facebook dan lainnya, yang terkadang bertolak belakang atau diragukan kebenarannya. Nformasi semacam ini sengaja dibuat dan didistribusikan secara massive atau diviralkan dengan maksud membuat kegaduhan, kekacauan atau agar terjadi keberpihakan.

Menurut Bapak Wijaya yang akrab dipanggil Kang Jaro, hoax harus dilawan atau diangkal. Dalam AISEI Webinar sesi ke-10, Kang Jaro berbagi tentang Guru Penangkal Hoaks. Sebenarnya bukan hanya guru yang harus menangkal hoaks, tetapi merupakan keharusan semua orang untuk menangkalnya.

Pengertian Hoax

  Menurut Wikipedia, hoax atau hoaks adalah berita bohong atau berita palsu, yaitu informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu atau April Mop. Sedangkan pengertian hoax menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring oleh kemendikbud.go.id, pengertian hoaks: (n) berita bohong. Namun dalam bahasa Inggris dikenal juga dengan istilah fake news (berita bohong) yaitu berita buatan atau berita palsu.  

Ciri-ciri Hoax

Untuk menangkal hoax, kita harus mengenali ciri-ciri informasi yang tergolong hoax, antara lain:

1.   Artikel yang dibuat cenderung menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan dan biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan nara sumbernya.

2.   Sumber informasi tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3.   Pesan yang disampaikan bersifat sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4.   Mencatut nama tokoh berpengaruh atau memakai nama yang mirip media terkenal.

5.   Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat, dan memanipulasi foto dan keterangannya. Foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

6.   Judul dan pengantarnya profokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7.   Memberi penjulukan/labelling dan minta supaya di-share atau diviralkan

8.   Biasanya ditulis oleh media abal-abal yanga alamat media dan penanggung jawabnya tidak jelas.

Hoax yang perlu diwaspadai

            Hoax dalam perdarannya ada berbagai macam atau bentuk. Kita harus mengenali dan memahami bentuk hoax yang perlu diwaspadai:

a.   Virus tipuan

Salah satu tipuan yang dikembangkan oleh peretas melalui email atau aplikasi obrolan. Ipuan ini biasanya berisi virus berbahaya bagi komputer atau ponsel.

b.   Pesan Berantai

Penguna aktif aplikasi obrolan seperti WhatsApps, pasti sering menerima pesan untuk menerima bberapa kontak di ponselnya yang khusus mengandung isi alasan tertentu seperti akan menerima hal buruk bila tidak dipertanyakan, serta tentang hadiah yang mewajibkan pembagian yang diterima pemenang.

c.   Cerita Rekayasa

Cerita urband legend tentang tempat menyeramkan, benda pusaka, atau kegiatan tertentu. Sebagian besar isinya perlu dicrosscheck kembali pada penduduk lokal

d.   Hoax Dapat Hadiah Gratis

Biasanya dikirim via SMS yang memberi kabar hadiah besar. Beberapa oknum akanmengirim pesan siaran atau pesan pop-up. Sementara logikanya, kita tidak melakukan sesuatu yang berujung pada hal tersebut

e.   Tipuan Pencemaran Nama Baik

Kabar yang berisi info yang mencemarkan nama baik seseorang .

Untuk menangkal hoax, kita harus mengenali ciri-ciri situs yang tergolong penyebar hoax, antara lain:

-     Judul

Judul berita ditulis secara profokatif dan tidak selalu menggambarkan isi berita. Cara mengantisipasinya adalah dengan mencari berita serupa dari sumber lain dari media pemberitaan yang kredibel untuk perbandingan

-     Komunitas

Bergabunglah dengan komunitas daring yang memerangi berita palsu. Biasanya dengan model crowdsourcing, komunitas itu menyaring dan mengklasifikasi informasi yang meragukan kebenarannya.

-     Alamat Situs

Penyebar berita hoax bisa dipastikan tidak terdaftar di Dewan Perssebagai institusi media resmi di Indonesia. Untuk mengecek, ketik alamat situs tersebut di kolom data pers (dewanpers.or.id) untuk mengetahui apakah media itu telah memenuhi kaidah jurnalistik atautidak.

-     Konten

Artikel pada situs hoax biasanya didominasi opini dengan pemaparan fakta yang terbatas. Makin banyak fakta dalamsebuah artikel menunjukkan media tersebut layak disebut kredibel.

-     Foto

Foto-foto pada situs hoax terkesan profokatif. Untuk menguji keabsahan informasi dari foto adalah dengan menyeretnya ke Google Images di apliksi penjelajah. Dari proses tersebut bisa diketahui apakah foto dan keterangan yang disajikan dari peristiwa berbeda atau tidak.

Tips menghindari berita hoax

            Dalam Al Qur’an Allah telah berfirman yang artinya, “Hai, orang-orang yang beriman, jika datang kepada mu orang fasik yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al Hujarat/49:6)

            Berdasarkan ayat di atas kita berkewajiban untuk meneliti kebenaran sebuah berita sebelum kita menyebarkannya. Beberapa hal berikut bisa menjadi pedoman dalam menghindari berita hoax.

a.   Cek beberapa sumber

Untuk mengecek sumber berita, kita bisa memanfaatkan mesin pencari (search engine) untukmembandingkan kebenaran suatu berita.

b.   Kenali situs palsu

Teliti dan riset dahulu sejarah hingga profil untuk menemukan bukti jika situs tersebut memberikan berita positif dan netral

c.   Hindari situs mencurigakan

Jangan menyebarkan berita dari situs yang tidak dikenal agar tidak viral

d.   Baca keseluruhan berita

Bacalah suatu berita secara menyeluruh sebelum kita menarik kesimpulan.

Pendekatan hukum

            Pengaturan tentang penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah diatur secara jelas dalam Undang-undang No 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, yang kemudian diubah menjadi Undang-undang No19 Tahun 2016, yang dikenal dengan UU-ITE. Ketentuan tentang perbuatan yang dilarang dalam UU-ITE diatur dalam pasal 27 s.d pasal 35 dengan penjelasan sebagai berikut:

-     Pasal 27

Larangan mendistribusikan, mentansmisikan, membuat dapat diaksesnya informais elktronik dan/atau dokumen elektronik bermuatan: asusila (ayat1), perjudian (ayat 2), pencemaran nama baik (ayat 3), dan pemerasan dan/atau pengancaman (ayat 4)

-     Pasal 28

Berita bohong kepadakonsumen (ayat 1), terkait suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) (ayat 2)

-     Pasal 29

Ancaman kekerasan atau menakut-nakuti.

-     Pasal 30

Mengakses sistem elektronik milik orang lain: dengan cara apapun (ayat 1), mengakses dan mengambil (ayat2), menerobos (ayat 3)

-     Pasal 31

Melakukan intersepsi atau penyadapan: sistem elektronik milik orang lain (ayat 1), dari publik ke privat dan atausebaliknya (ayat 2)

-     Pasal 32

Larangan perubahan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik: pengubahan, pengrusakan, memindahkan, menyembunyikan (ayat1), memindahkan ke tempat yang tidak berhak (ayat 2), membuka dokumen atau informasi rahasia (ayat 3)

-     Pasal 33                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Mengganggu sistem elketronik

-     Pasal 34

Larangan menyediakan atau memfasilitasi:

a.   Perangkay keras atau lunak untuk memfsilitasi pelanggaran pasal 27 s.d asal 33

b.   Sandi lewat komputer, kode akses atau sejenisnya untuk memfasilitasi pelanggaran pasal 27 s.d asal 33

-     Pasal 35

Pemalsuan dokumen elektronik dengan cara manipulasi, penciptaa, perubahan, penghilangan, pengrusakan.                                                                         .

            Sebagai sangsi pelanggaran, pelaku terancam pidana penjara maksimum 4-6 tahun dan/atau denda maksimal 750 juta – 1 milyar (pasal 45).

Tips agar terhindar jerat hukum akibat hoaks

            Kita tentu tidak menginginkan terjerat hukum akibat salah menyikapi berita hoax. Unrtu itu ada baiknya memperhatikan beberapa tips berikut:

·           Lakukan klarifikasi dengan menyampaikan narasinya saja, tidak perlu menyalin (copy-paste) konten hoax-nya.

·           Klarifikasi dilakukan dengan menanyakan langsung kepada individu atau instansi resmi yang dianggap tahu atau bisa mengklarifikasi hoax tersebut, tidak dilakukan di grup atau media sosial

·           Jika terlanjur meng-copy paste konten hoax di  grup atau akun medsos, maka pastikan ada kalimat tambahan yang berisi pernyataan klarifikasi meminta bantuan penjelasan.

Berita bohong atau hoaks dudah terjadi sejak zaman dulu. Sebetulnya ada cara mudah untuk menghindarnya, yaitu dengan  banyak membaca. Dengan banyak membaca kita akan mendapat  banyak  informasi tentang apapun. Jadi, literasi merupakan modal utama untuk menangkal hoaks. Apalagi kita sebagai ASN misalnya tidak boleh berpolitik, tapi harus melek politik.. Kita tidak boleh buta politik, tetapi kita juga tidak boleh ikut politik praktis.  

Selain kita harus literat, menahan diri adalah cara yang paling mudah untuk menghindari hoax. Kita sebaiknya jangan mudah membagikan atau mengeshare berita yang tidak atau belum jelas kebenarannya. Kita harus meneliti atau menyaring terlebih dahulu informasi yang kita dapat. Bila berita atau informasi yang kita terima sudah pasti kebenarannya, maka kita boleh untuk segera mengesharenya. Jadi, saring dahulu, baru sharing. Dan ingat, Unduh yang Baik dan Unggah yang bermanfaat.

Semoga bermanfaat.

Senin, 21 September 2020

Bagaimana Mengatasi Kesulitan Dalam Menulis?



Menulis, semua orang tentu bisa. Tetapi, dalam praktiknya banyak orang yang mengalami kesulitan. Lalu, apa sih yang sulit dalam menulis? Pada kebanyakan orang,kesulitan biasanya dialami pada fase awal,yaitu memulai. Saat kita mulai menulis, kita sering terjebak dalam menentukan apa yang akan kita tulis dan bagaimana memulainya. Hal ini tentunya disebabkan banyak hal. Mengutip dari https://www.elmarkazi.com/kesulitan-yang-sering-dihadapi-penulis-dan-solusi-mengatasinya/ , ada 7 (tujuh) macam kesulitan yang sering dihadapi dalam menulis, yaitu :

1. Susah mencari ide,

2. Minder,

3. Belum terbiasa menulis,

4. Takut tidak diterima penerbit,

5. Miskin kosakata,

6. Belum bisa mengorganisasikan tulisan dan

7. Kurang menguasai tata bahasa, baik bahasa popular atau ilmiah.

Nah, pada AISEI Writing Event sesi 4, melalui webinar via zoom meeting, Omjay, panggilan akrab Wijaya Kusumah, M.Pd., memaparkan tips atau langkah-langkah agar kita mudah dalam menulis. Tips atau langkah-langkah tersebut yakni :

 

1.    Banyak membaca.

Membaca tak dapat dipisahkan dari menulis. Menulis dan membaca bagai sepasang kekasih. Belahan jiwa yang saling menguatkan, mengingatkan, dan saling memperbaiki. Dengan membaca kita banyak menyerap informasi dan pengetahuan sebagai modal dasar kita untuk menulis. Ada kata bijak, rabun membaca, lumpuh menulis. Jika kita tidak banyak membaca, maka miskin ide untuk menulis.

 

2.    Banyak berlatih menulis

Menulis itu sebuah ketrampilan yang harus dilatih. Agar kita mahir menulis, kita harus banyak berlatih menulis. Menulis apa saja yang ada di pikiran kita. Menulis apa sajayang ada di sekitar kita. Luangkan waktu sesering mungkin untuk menulis, buat jadwal dan yang paling penting adalah disiplin.

 

3.    Blog Walking

Dengan sering mengunjungi blog orang lain dan menorehkan komentar, sebenarnya kita sedang berlatih menulis. Manfaat lainnya dapat memperkaya informasi, wawasan, dan pengetahuan kita.

 

4.    Menulis setiap hari

Menulis itu ibarat makan dan minum, dilakukan setiap hari. Maka biasakanlah menulis setiap hari agar menulis menjadi suatu kebiasaan. Dari kebiasaan lama kelamaan menulis menjadi kebutuhan. Sama halnya dengan makan dan minum.

 

5.    Berguru pada Ahlinya

Jika kita belajar menulis, alangkah baiknya belajar pada ahlinya. Ahli di sini diartikan orang yang menguasai keilmuan dalam bidangnya. Dengan berguru pada ahlinya, kita akan mendapatkan banyak pengetahuan di bidang kepenulisan.

 

6.    Bergabung dalam Komunitas Menulis

Komunitas adalah kumpulan orang dengan kegiatan sejenis. Dengan bergabung dalam komunitas menulis, akan banyak memperoleh manfaat. Ini penting bagi penulis pemula. Di dalam komunitas kita dapat saling berbagi informasi, berdiskusi, bahkan melakukan pelatihan bersama untuk menghasilkan karya bersama.

 

7.    Memanfaatkan Media Sosial

Media sosial dapat kita manfaatkan sebagai media berlatih menulis. Misalnya menulis status di facebook, chating di whatsapp, menulis di blog, serta jenis media sosial lainnya seperti instagram, YouTube dan tweeter.

 

8.    Sering berbagi tak pernah rugi

Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain. Salah satunya adalah dengan berbagi. Sebuah tulisan yang kita anggap remeh atau tak ada manfaat bagi kita, mungkin akan bermanfaat bagi orang lain. Seperti sampah yang kita buang, bagi pemulung merupakan sumber penghidupan. Di sisi lain, berbagi melahirkan perilaku ikhlas, yang pada gilirannya akan mendatangkan kebaikan pada diri kita.

 

9.    Dalam kesulitan ada kemudahan

Kita harus yakin bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Seperti tersebut dalam firman Allah pada Surat Al –Insyirah:6, “Sesungguhnya setelah kesul;itan itu ada kemudahan.” So, you must believe it.
 

10. Paksakan Diri Menulis

Gagasan atau ide kadang muncul begitu saja. Nah, saat itulah kita paksakan diri untuk menuangkannya dalam tulisan. Hal ini penting, karena memori otak kita tidak selalu mampu mengingat dalam waktu yang lama. Bila ide tidak segera diikat dalam tulisan, bisa jadi di lain waktu sudah hilang karena lupa.

 

11. Berkolaborasi

Sebagai penulis pemula, berkolaborasi dapat mempermudah menghasilkan suatu karya. Dengan kolaborasi akan melibatkan banyak orang yang saling berinteraksi, bertukar pikiran, saling mengisi, saling berbagi dan mmbuat karya  bersama.

 

12. Percaya Diri

Sikap percaya diri wajib dimiliki penulis. Percaya pada kemampuan kita dan yakinlah bahwa apa yang kita tulis, pasti dibaca orang.

 

13. Fokus

Menulis membutuhkan konsentrasi dan fokus pada satu hal. Pikiran jangan terpecah pada berbagai macam hal. Fokuskan pada apa yang kita tulis dan jangan beralih ke hal lain.

 

14. Lawan Kemalasan Diri

Salah satu penyakit bawaan pada diri kita adalah malas. Untuk itu bila kita ingin sukses, maka kemalasan harus kita lawan. Bukan oleh orang lain, tetapi hanya diri kita yang bisa membunuhnya.

 

15. Jangan Takut Gagal/Salah

Tulislah apa yang ada dalam pikiranmu. Jangan takut salah. Jangan takut gagal. Bila kita gagal, sejatinya kita menunda kesuksesan. Untuk itu, bila gagal, coba dan coba lagi.

 

16. Cari Lingkungan yang Mendukung

Peran lingkungan sangat berpengaruh dalam menulis. Cari tempat dan situasi di mana kita nyaman untuk menulis. Hal ini penting agar kita bisa fokus dan konsetrasi, sehingga ide akan mudah bermunculan.

 

Nah, kapan lagi kita memulai menulis, kalau bukan sekarang?

 

Kota Wali, 23 Juni 2020

 

Tantrum, Apa dan Bagaimana Penangananya?



Tanpa disadari, kita semua pasti pernah mendapati anak yang rewel, menangis atau reaksi kemarahan yang ekstrim lain yang kadang menjengkelkan. Itu semua hal yang normal dan lumrah. Namun, di situasi yang tidak tepat, pasti menjengkelkan bahkan mungkin membuat malu orangtua. Nah, bagaimana menangani hal ini bila terjadi pada anda.

Perilaku  anak yang demikian disebut tantrum. Apa sih tantrum itu sebenarnya? Menurut Ibu Nouf Zahrah Anastasia,S.Psi., M.Psi dalam sebuah webinar, tantrum adalah kondisi kemarahan yang ekstrim pada anak sebagai reaksi ketika ia frustasi. Tantrum sering muncul pada anak batita-balita karena anak seusia ini belum memiliki kemampuan yang mencukupi dalam mengungkapkan kebutuhan atau keinginannya secara verbal. Ia baru dalam tahap belajar berkspresi, belajar bicara dengan cara menirukan, belajar mengungkapkan keinginan. Nah, ketika keinginan atau kebutuhanya tidak terpenuhi karena tidak dipahami orang lain, ia menjadi frustasi. Reaksinya berbentuk kemarahan yang terkadang ekstrim, sebagai ekspresinya agar diperhatikan. Misalnya merengek, menjerit, menangis tak henti-henti sambil berguling-guling di lantai, hingga reksi agresif seperti memukul, menendang dan sebagainya. Peilaku tantrum ini bertujuan agar keinginan atau kebutuhan si anak dipenuhi atau didapat.

Secara umum tantrum bisa muncul karena hal-hal berikut ini :

·      Ketika anak tidak mendapatkan apa yang inginkannya

·      Bila orangtua atau guru tidak mau melakukan apa yang diinginkan anak

·      Bila anak diminta melakukan hal yang tidak diinginkanya

·      Bila anak menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya

Selain  tantrum, ada perilaku anak yang disebut melt-down. Melt-down adalah situasi di mana anak mengamuk karena permasalahan sensori. Seringkali karena terlalu banyak rangsangan sensori yang masuk ke inderanya, membuat anak bingung memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal ini membuat perasaan anak menjadi tidak nyaman hingga mengamuk sejadi-jadinya.

Walaupun reaksi perilaku yang muncul hampir sama, tapi bila dilihat dari faktor pemicunya ada beberapa perbedaan. Berikut ini hal-hal yang membedakan tantrum dan melt-down:

1) Tantrum muncul karena didorong oleh adanya keinginan atau tujuan, sedangkan melt-down didorong oleh reaksi terhadap sesuatu;

2) Tantrum biasanya karena anak menginginkan sesuatu, melt-down muncul sebagai  reaksi dari rasa kewalahan atau tekanan yang berlebihan;

3) Pada kasus tantrum, anak mengecek untuk memastikan apakah orangtua memperhatikan perilakunya atau tidak, sedangkan pada kasus melt-down anak tidak peduli jika orang lain memperhatikan;

4) Tantrum dilakukan anak di depan banyak orang, perilaku melt-down akan terus dilakukan bahkan tanpa ada yang melihat;

5) Pada tantrum anak mempertimbangkan koekuensi pada dirinya, sedangkan pada melt-down anak  tidak mempertimbangkan keselamatan diri;

6) perilaku tantrum akan langsung berhenti bila anak mendapat yang diinginkan, sedangkan melt-down hanya akan berhenti setelah anak tenang atau ketika orang yang dicintai telah membantu mendapatkan kembali kontrol dirinya;

7) Pada tantrum, anak akan segera kembali ke aktivitas normal bila tujuannya tercapai, sedangkan pada melt-down  butuh waktu lama.

   Perilaku tantrum ata upun melt-down tidak bisa dibiarkan. Bila dibiarkan dikhawatirkan akan terbawa hingga mereka dewasa. Dalam hal ini, anak perlu dibimbing untuk belajar mengontrol emosi dan mengelola rasa frustasi yang dialaminya. Anak juga perlu belajar bahwa mereka tidak bisa menggunakan perilaku ekstrimnya (tantrum) sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu. Untuk itu orangtua atau guru harus bijaksana dalam menyikapi perilaku tantrum pada anak.

Ada hal yang harus diingat bahwa saat tantrum anak akan memperhatikan reaksi atau respon yang ditampilkan orangtua atau gurunya. Jika orangtua atau guru merespon dengan reaksi negatif yang berlebihan seperti berteriak, memaki, memukul, atau lainnya, justru seringkali menyebabkan intensitas tantrum bertambah.

Respon yang tidak tepat dari orangtua atau guru misalnya dengan mengabulkan permintaan anak, akan membuat anak belajar bahwa tantrum merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Beberapa hal bisa dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan anak menunjukkan perilaku tantrum, diantaranya :

a.       Kenali kemampuan anak dan berikan tugas sesuai kemampuannya.

b.      Buatlah aturan yang jelas dan dijalani dengan konsisten

c.       Komunikasikan dengan jelas apa yang harus dilakukan oleh anak dan pastikan anak telah memahami tugasnya.

d.      Sebelum menjalani suatu aktivitas, buatlah perjanjian yang disepakati oleh kedua belah pihak. Berikan penjelasan apa yang akan dilakukan, hal yang mungkin terjadi, perasaan yang mungkin timbul, dan alternatif pilihan yang mungkin dilakukan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sebagai resiko ketika tantrum muncul, perlu diingat hal-hal berikut :

·         Hindari kemungkinan terjadinya cidera secara fisik. Misalnya dengan menyingkirkan atau mengosongkan ruangan dari benda-benda yang berpotensi dapat melukai anak. Bisa juga dengan memindahkan anak dari lokasi atau situasi saat itu.

·         Minimalisasi penonton atau khalayak ramai yang menyaksikan anak ketika tantrum muncul. Dalam kasus ini orangtua biasanya akan mengalah atau menuruti kenginan  anak karena malu dilihat orang banyak.

Sebagai pedoman, beberapa tehnik berikuti ini dapat diterapkan ketika menghadapi tantrum pada anak :

·    Komunikasikan dengan baik prilaku yang kita harapkan dilakukan oleh anak

·    Gunakan alat bantu visual, misalnya dengan menuliskan prilaku yang kita harapkan

·    Berbicara sedikit mungkin

·    Maksimalkan gesture dan tubuh sebagai alat bantu visual. Gunakan tubuh untuk membuat sesuatu terjadi, untuk mengkomunikasikan apa yang seharusnya tidak dilakukan dan untuk mencegah hal tertentu.

·    Beri waktu pada anak untuk merespon. Jika respon yang diharapkan tidak muncul, segera ingatkan dan beri waktu kembali.

·    Usahakan sedikit mungkin orang yang hadir atau menyaksikan saat tantrum berlangsung, karena tantrum bukan tontonan. Kehadiran orang lain apalagi dalam jumlah banyak, akanmenguatkan perilku tantrum.

·    Perhatikan eye-contact atau kontak mata yang kita lakukan. Tunjukkan ekspresi seolah-olah perilaku tantrum yang dilakukan anak tidak membeikan pengaruh apapun pada kita. Kita bisa berpura-pura sibuk melakukan sesuatu, tapi tetap mengawasi perilaku mereka.

·  Jika anak telah tenang, ajak dia untuk membicarakan masalahnya. Pada saat demikian, kita sedang mengajarkan pada anak ketrampilan mengungkapkan perasaannya. Atau, anak belajar melakukan negosiai dengan guru bila tugas yang diberikan terlalu berat.

·  Arahkan anak untuk melanjutkan aktivitas atau tugas yang ditinggalkannya, dengan catatan tidak boleh memberi hadiah /reward, atau menuruti keinginan anak walaupun perilaku tantrum telah berhenti. Untuk menghindari rasa frustasi, boleh saja tugasnya dipermudah.

·  Ajari anak tentang tehnik untuk menangkan diri, misalnya mengambil nafas dalam-dalam sebanyak 3 kali, atau suruh menghitung sampai sepuluh dan sebagainya.

 

Rabu, 02 September 2020

"Target Mimpi Ditta"

 




“Teruslah memberi arti bagi setiap orang yang kau temui, 

dalam setiap hal yang kau lalui, dan untuk setiap waktu yang kau miliki”

Ditta Widya Utami, S.Pd.


Adalah Ibu Ditta Widya Utami, S.Pd., yang ketika kuliah menuliskan 100 target mimpi pada sebuah karton besar dan ditempel di dinding kamar kos. Salah satu mimpi guru IPA di SMPN 1 Cipeundeuy, Subang ini, adalah menulis buku. Hari demi hari, satu per satu impiannya terwujud. Setiap ada satu mimpi yang terwujud, ia langsung mencoret dari daftar (agar punya ruang untuk mimpi-mimpi baru). Semakin lama, semakin banyak mimpi yang dicoret karena Allah berkenan mewujudkannya.

Saat itu, mimpi untuk menulis buku sebenarnya sudah terwujud. Ketika itu ia dan teman-temannya mengikuti lomba kreativitas mahasiswa tingkat jurusan. Timnya meraih juara dua dengan skor yang berbeda tipis dari peringkat pertama. Bersama tim, ia membuat buku "Seri Petualangan Kimia". Karena hanya dibuat satu sebagai prototipe, target mimpi menulis buku belum ia coret dari daftar target mimpinya. Saat itu ia masih berharap bisa menghasilkan karya berupa buku.

Selang 10 tahun kemudian, karena aktif di MGMP dan Komunitas Literasi, ia ikut dalam kepanitiaan Workshop Best Practice yang diselenggarakan MGMP IPA Kab. Subang. Hasil workshop tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk buku. Bu Hj. Rita Rosidah, M.MPd. selaku ketua MGMP IPA Kab. Subang memberi kepercayaan kepadanya dan Ibu Suprapti, S.Pd. untuk menjadi penyunting bukunya. Tentu kebahagiaan tersendiri bagi mereka.

Setelah buku Jejak Langkah Guru Subang, ia pun ikut menulis dalam buku antologi bersama di komunitas-komunitas literasi yang diikutinya.

Bulan Maret-April 2020 adalah bulan penuh kebahagiaan baginya. Karena dalam satu bulan itulah buku solo pertamanya yang berjudul Lelaki di Ladang Tebu lahir. Buku ini merupakan kumpulan cerpen pendidikan yang konfliknya diambil dari kisah nyata yang dinarasikan ulang menjadi sebuah cerpen. Buku itu ia tulis untuk mengabadikan kisah-kisah para murid yang telah menjadi guru kehidupan baginya. Dari murid-muridnya itu, dengan segala sifat baik atau sebaliknya, mampu memberi pelajaran yang berarti dalam hidupnya.

Pada 26 Maret 2020, ia bergabung dalam grup menulis via WA Grup bersama Omjay dkk. Awalnya masuk gelombang 8 kemudian pindah ke gelombang 7 karena masih ada kuota untuk 2 orang. Banyak sekali manfaat dan kebahagiaan yang ia rasakan dengan mengikuti grup ini. Misalnya ketika mendapat hadiah kejutan dari Omjay yang selalu menginisiasi peserta untuk terus menulis setiap hari. Sesekali di hari antara jeda materi, Omjay mengirim foto seperti ketoprak, kucing, kue kacang, atau apa pun untuk kemudian dijadikan ide menulis. Dari salah satu resume yang ia buat, ia pernah mendapat hadiah kejutan berupa buku dari PGRI. Dan dari tulisan di blognya yang berjudul Kisahku dan Kurma Muda, ia mendapat sepaket kurma ruthob dari KSGN dan PGRI. Tak berhenti sampai di situ. Melalui grup menulis bersama Omjay ini, ia kembali ikut menulis 2 buku karya bersama. Pertama bersama Prof. Eko Indrajit, sedangkan yang kedua bersama Ibu Kanjeng, Pak Brian dan teman-teman guru blogger lainnya.

Pena Digital Guru Milenial adalah buku karya bersama keenam yang saya ikuti. Terdiri dari 43 penulis yang merupakan guru blogger yang mengurai kisahnya masing-masing sebagai guru sekaligus blogger. Dibimbing langsung oleh Ibu Kanjeng yang luar biasa.

Pada hari Senin, 13 April 2020, peserta grup menulis bersama Omjay mendapat materi tentang menulis buku dalam seminggu yang disampaikan oleh Prof. Eko Indrajit. Bu Dita sangat menikmati pemaparan materi dari Prof Eko yang disampaikan dengan luwes dan bersahaja. Di akhir materi, Prof Eko menyampaikan tantangan menulis buku dalam seminggu. Sebagai sumber materinya, peserta memilih tema yang ada di Ekoji Channel, channel youtube milik Prof Eko. Bagi yang siap ikut tantangan, bisa langsung mengirimkan judul beserta outline buku kepada beliau.

Pada tanggal 15 April 2020, Bu Dita mengirimkan judul beserta outlinenya kepada Prof Eko dan langsung disetujui. Setelah itu, setiap hari ia menulis satu bab hingga selesai pada tanggal 21 April 2020. Selanjutnya tinggal bimbingan untuk proses editing. Salah satu rahasianya dalam menulis buku adalah menyelesaikan seluruh draft dari daftar isi hingga daftar pustaka, baru kemudian mengedit. Jika selesai satu bagian langsung diedit, maka buku akan selesai dalam waktu yang relatif lama. Karena dalam pembuatan buku, proses editing-lah yang sebenarnya memakan porsi waktu paling banyak.Dari peserta yang mulanya berjumlah 20 orang, hanya 9 orang yang mampu menyelesaikan rangkaian proses hingga bukunya bisa diterbitkan.

Semua karena prosesnya menyenangkan dan Prof. Eko begitu telaten dan sabar dalam memberikan bimbingan. Bisa dibayangkan, di tengah kesibukannya memberikan perkuliahan online, mengisi webinar PGRI, dan aktivitas lainnya, Prof Eko masih menyempatkan diri untuk membimbing peserta yang mayoritas penulis pemula. Selain melalui WA grup, beliau juga melakukan bimbingan melalui google meet dan zoom.

Pada bimbingan klasikal pertama, setiap peserta mempresentasikan naskahnya masing-masing. Lalu, Prof. Eko memberi masukan atas masing-masing karya untuk kemudian direvisi. Pada bimbingan klasikal kedua, dibahas teknis jadwal pengiriman naskah ke penerbit, jadwal meeting dengan penerbit, dsb.

Hari Kamis, 4 Juni 2020 adalah hari yang mendebarkan. Inilah hari pengumuman apakah naskah peserta lolos atau tidak. Pengumuman dilakukan via zoom meeting yang dihadiri oleh Pak Joko sebagai perwakilan dari Penerbit Andi, Omjay dan tentu saja Prof. Eko beserta seluruh peserta. Saat itu, Prof. Eko berulang kali membesarkan hati peserta agar memantapkan hati menerima apa pun hasilnya. Karena dari semua naskah yang masuk, masih ada yang harus revisi minor, revisi mayor dan ada yang langsung diterima. Bu Dita bersyukur karena naskah Menyongsong Era Baru Pendidikan termasuk yang langsung diterima.

Sejak pengumuman lolos/tidaknya naskah, selebihnya proses editing, layout, dsb. Dilakukan di penerbit mayor. Tanggal 12 Juli 2020 Bu Dita menerima naskah proof. Naskah yang siap naik cetak tapi butuh dicek untuk terakhir kalinya oleh penulis. Naskah ini dikirim langsung ke penulis beserta surat perjanjian (kontrak). Setelah selesai dicek, dikirim kembali ke penerbit, hingga pada 7 Agustus 2020, ia menerima foto flyer berisi bentuk fisik buku, harga dan link order untuk pemesanan bukunya.

Bu Dita memilih tema itu setelah melihat tayangan berjudul UNESCO Competency Framework for Teachers di Ekoji Channel. Dalam video ini dibahas tentang kompetensi teknologi informasi apa saja yang harus dimiliki guru berdasarkan standar UNESCO. Alasannya memilih tema tersebut, tak lepas dari tujuan menulis itu sendiri. Bagi Bu Dita, tujuan menulis itu ada 3 (tiga) jenis :

1.       Menulis untuk mengabadikan momen

Misalnya ketika menuliskan kisah saat mendapat hadiah kejutan dari Omjay, menjadi pemenang lomba blog, dsb.

2.       Menulis untuk mengabadikan buah pikiran

Contohnya menulis Best Practice, PTK, artikel ilmiah, atau tulisan yang membutuhkan referensi lai

3.       Menulis untuk kebutuhan

Tujuan menulisnya karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan bisa macam-macam, misalnya untuk mendapat kesenangan, untuk menyalurkan hobi, dll. Buku Menyongsong Era Baru Pendidikan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan guru/pendidik saat ini.

 Seperti kita ketahui, peserta didik yang kita hadapi saat ini mungkin ada yang termasuk generasi Z atau generasi A. Generasi Z yaitu generasi yang lahir antara tahun 1995-2010. Sedangkan generasi A adalah generasi yang lahir setelah 2010. Keduanya merupakan generasi yang dekat dengan teknologi. Oleh karena itu, kita pun sudah barang tentu harus bisa menguasai atau minimal menggunakan berbagai teknologi informasi dalam proses pembelajaran. Meski teknologi hanyalah alat, tapi memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran bahkan telah menjadi kriteria kompetensi pedagogi dan profesional bagi seorang guru.

Saat ini dengan adanya pandemi corona, pendidik diharuskan untuk mulai menggeser proses pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran inovatif yang salah satunya dengan memanfaatkan teknologi informasi. Oleh karena itu, kita harus siap Menyongsong Era Baru Pendidikan.

Buku Menyongsong Era Baru Pendidikan ibarat appetizer (hidangan pembuka) dalam suatu jamuan makan yang berfungsi merangsang nafsu makan sebelum hidangan utama (Main Course) dinikmati. Menu utama yang dimaksud adalah melakukan pengembangan diri setelah membaca buku ini. Buku ini diharapkan mampu meningkatkan semangat para pendidik untuk mengembangkan kompetensi di bidang teknologi informasi yang kemudian dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Sebagai pendidik tentu harus optimis dalam  menyongsong era baru pendidikan, dimana semua akses informasi bisa didapat dengan mudah. Kapan saja, dimana saja, dan oleh/dengan siapa saja.Proyek Palapa Ring atau istilah lainnya "Tol Langit" yang dilaksanakan pemerintah  semoga menjadi salah satu jalan yang semakin memudahkan akses teknologi informasi di negara kita yang berbentuk kepulauan.

Dalam pembuatan buku bareng Prof Eko ini, referensi utama selain dari Ekoji Channel adalah modul ICT Competency Framework for Teachers yang dikeluarkan UNESCO, jurnal, program-program pemerintah, dsb. Buku ini merupakan pengembangan kompetensi TIK yang sebaiknya dimiliki oleh seorang guru, baik dengan mengikuti diklat tentang TIK, pembelajaran inovatif, atau lainnya agar sesuai standar UNESCO.

Dalam membangun konsistensi ia punya prinsip teruslah memberi arti bagi setiap orang yang kau temui, dalam setiap hal yang kau lalui, dan untuk setiap waktu yang kau miliki.

Dalam proses menulis, peran keluarga sangat penting. Selain menjadi guru, Bu Dita adalah seorang Ibu, yang harus pandai membagi peran sebagai istri. Baginya, istri merupakan makmum dari suami. Untuk itu seorang istri harus mampu menjaga nama baik suami dan menjaga aibnya. Suasana rumah biasanya tergantung suasana istri. Maka, seorang istri harus selalu menebar senyum untuk para suami dan membahagiakannya setelah lelah bekerja seharian. Salah satu triknya terkait keluarga, ia menulis ketika suami dan anaknya istirahat.

Mengenai penggunaan teknologi selama PJJ, Bu Dita cukup fleksibel. Alat teknologi yang digunakan oleh guru atau siswa umumnya adalah hp. Setelah melalui survei, ia menyimpulkan ternyata banyak anak yang lebih senang belajar lewat WA. Sebelum memulai, di grup WA yang ia buat, disampaikan terlebih dahulu pengetahuan tentang aplikasi yang akan digunakan seperti Google Form, Google Classroom, Quizizz, dsb, terutama tentang cara penggunaannnya. Ia juga memberi kesempatan kepada siswa yang ingin bertanya langsung lewat wa pribadi (tidak di grup). Ini ia lakukan karena terkadang ada anak yang merasa malu bertanya di hadapan banyak orang. Namun bagi anak yang kebetulan belum dapat memanfaatkan teknologi karena tidak punya hp, ia tidak memberatkan. Untuk anak yang demikian, ia menyiapkan modul dan melakukan home visit.

Saat PJJ, pembelajaran akan kondusif bila siswa dan gurunya sama sama memahami teknologi yang digunakan. Teknologi adalah alat, hal yang terpenting adalah bagaimana agar siswa dapat menjadi aktif saat pembelajaran. aAntara satu sekolah dengan sekolah yang lain kondisinya berbeda. Di satu sekolah, pemanfaatan zoom mungkin bisa jadi primadona. Di sekolah lain belum tentu. Ada yang bisa menggunakan office, ada yang cukup dengan Google Form. Ada yang pakai LMS, ada yang cukup nonton video YouTube. Bagi Bu Dita, apapun teknologi yang digunakan, sebisa mungkin harus tetap membuat pembelajaran menjadi bermakna.



Minggu, 30 Agustus 2020

Kondangan

Pesta syukuran hajatan sudah menjadi tradisi di masyarakat. Walau masih situasi pandemi covid, tradisi ini tetap berjalan. Di masa New Normal, di beberapa daerah perhelatan ini sudah bebas dilaksanakan. 
Hari ini seorang rekan kerja menikahkan putrinya. Pk 09.00 brangkat dari rumah. Merayapi jalanan kabupaten dilanjutkan masuk tol Cipali sepanjang 60 km. Tiba di sekolah rekan-rekan sudah menunggu. Rombongan berangkat bareng menyusuri jalanan kampung. Blok Sukatani desa Cikawung terletak di kawasan hutan. Perjalanan naik motor asyik juga. Setelah menempuh 4 km sampailah di lokasi.
Nampak pedagang berjajar memenuhi jalan kecil menuju tempat hajat. Suasana ramai sekali. Alunan suara musik dangdut jaipongan mendukung kemeriahan suasana. Jemaripun mulai akrab menyalami sederetan crew hajat termasuk tuan rumah. Rombongan langsung berdesakan antri prasmanan. Pas banget dengan waktu makan siang. Masing-masing mencari tempat duduk yang masih kosong untuk menyantap menu hidangan. 
Sebagai penghormatan, kami stay beberapa saat di sana. Alhamdulillah event ini menjadi ajang silaturahmi. Kami bisa bertemu kawan-kawan yang lama tak jumpa. MC memanggil hadirin yang mau tampil di atas panggung secara bergantian. Kebanyakan dari kalangan keluarga, rekanan atau hadirin yang secara khusus ingin memeriahkan acara. Pemuda, pemudi, ibu-ibu bahkan anak-anak bergoyang mengikuti irama musik. Ini adalah ajang panen sang biduan. Di sela syair lagu, ia menyebut nama yang naik ke panggung. Saat itulah "saweran" berhamburan. Satu demi satu sang biduan mendekati mereka yang asyik bergoyang. Menyebut nama sambil mengajaknya goyang bareng. Bagi beberapa orang, ini merupakan keasyikan tersendiri. Angan pun terlena. Pusing hilang, hingga lupa sama hutang. Bagi yang kecanduan, sering isi dompet pun terkuras. Astagfirullah. Dengan ringannya tangan-tangan mereka menggelontorkan rupiah. Padahal, di saat berbeda ketika mereka bersanding dengan kotak sumbangan tempat ibadah, atau datang sang peminta-minta, betapa beratnya tangan mereka mencabut walau hanya selembar recehan. Ironis, memang.
Beberapa lagu kami nikmati sebelum kami meninggalkan tempat hajat. Menunggu barangkali MC memanggil, persiapan alakadarnya sudah disediakan. Tapi karena banyaknya request lagu, adzan Dzuhur menghentikan pentas itu sementara. Kami lepas dari arena pergotanfan. Kami pun pamitan.Teriring doa semoga kedua mempelai menjadi keluarga baru yang samawa. Aamiin.
Indahnya pemandangan hutan jati dalam perjalanan pulang, mengulang sesaat kesan di panggung pentas tadi. Angin sejuk sesekali menyapa wajah yang memanas diterpa ultra violet tengah hari musim kemarau. Aku bonceng motor dengan salah seorang staf TU yang berkendara sendirian. Kuda hitam yang kuparkir di halaman sekolah, segera membawaku kembali pulang. Kali ini tidak masuk TOL yang tarifnya lumayan mahal. Kucumbui jalanan biasa, agar bisa mampir di sebuah masjid tempatku biasa singgah. Usai sholat, kutarikan jemari di pentas blog ini. Membuat jejak dan berbagi cerita, mudah-mudahan ada manfaat bagi yang baca.

Masjid Jami Al Huda, Dusun Tegalwangon, Desa Palabuan, Kec. Ujungjaya, Sumedang.
Akhir Agustus 2020.


Mbak Via

 

Pentigraf Spesial Septembar Ceria
Oleh  Yoyon Supriyono


Paket promo Indrabath Tour & Travel bertajuk Tour D’Yogya, habis diborong warga RT 13. Registrasi online, memisahkan seat Paimin dan Aytun. Paimin di bus terakhir, sedang Aytun bus pertama. Walaupun kecewa, service plus-plus dari pihak travel, begitu membius keduanya. Kekecewaan hilang seketika. Bahkan Paimin dan Aytun lupa bahwa status mereka sudah tercatat di buku nikah.

On the road, bermacam acara digelar tour leader. Karaoke, quiz, game, hingga tebak-tebakan konyol berhadiah, semua ada. Di akhir trip, tour leader kembali tampil. “Jangan bilang sudah ke Yogya, kalau belum makan gudeg dan borong bakpia”, kalimat seloroh tour leader cantik bernama Via itu langsung disambut gembira. Kecuali Paimin yang tulen lahir di kota Gudeg, hal itu biasa saja.

Bus pun meluncur ke resto gudeg dan bakpia Jogkem yang lagi ngetrend. Dalam sekejap bakpia terlezat itu diserbu habi-habisan. Dalam perjalanan pulang, Via yang pede, menggelar quiz berhadiah terserah peserta. “Siapa yang tidak membeli bakpia Jogkem?” tanpa sadar seluruh peserta tour mengacungkan tangan. Tak disangka, Paimin yang tidak ngacung ternyata menjadi pemenang. Via pun mendekat dan bertanya hadiah apa yang diinginkan Paimin. “Karena saya tidak membeli bakpia, hadiahnya Mbak Via saja saya bawa pulang,” ujar Paimin penuh harap. Sorak sorai penumpang terhenti ketika tiba-tiba Aytun datang menjewer telinga Paimin.


Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...