Jumat, 12 Maret 2021

vaksin

      Menyerah juga, akhirnya. Setelah upaya pencarian yang melelahkan. Dan juga pelarian Paimin yang menyengsarakan dirinya sendiri. Kesedihan Aytun berserakan dalam keping-keping waktu yang terlewat. Belum lagi kekhawatiran para tetangga menghilangnya Paimin. Semua karena hal sepele. Takut disuntik. 
      Berita vaksinasi covid-19 sudah merebak. Paimin yang takut disuntik, kabur dari rumah. Setelah satu minggu, ia pulang dalam keadaan mengenaskan. Pakaiannya compang camping. Tubuhnya dekil karena tak mandi. Sungguh sudah seperti gelandangan. Paimin mengira vaksinasi sudah selesai. Setelah dirayu dan diiming-imingi hadiah sejumlah uang, Paimin akhirnya menyerah. Ia mau divaksin. Selain karena hadiah, ada permintaan lain.  Petugas vaksinasi yang akan nyuntik Paimin, harus suster atau dokter perempuan. Approved.
       Vaksinasi dilakukan di posyandu terdekat. Dua petugas kesehatan sudah bersiap. Seorang suster dan seorang bidan. Paimin duduk gemetar. Tangannya berpegangan pada seorang suster. Tangan satunya dalam kendali petugas yang akan eksekusi. Paimin berusaha menenangkan diri dengan membayangkan hadiah. Pandangannya menetap pada wajah suster muda disampingnya. Ketika jarum suntik menembus kulitnya, reflek Paimin membenamkan wajahnya tepat ke dada suster. Rasa sakit mendadak lenyap. Vaksin sinovac yang menjalari pembuluh darahnya bercampur dengan romantisme sensasional. Menyaksikan adegan itu, sontak Aytun angkat kaki. 
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Writer's Block

Pentigraf Oleh: Yoyon Supriyono Diskusi mingguan sekitar masalah literasi di komunitas literasi Zamrud semakin ramai saja. Semu...